Fusaila, Sang Perawi Hadits Wanita


Fusaila termasuk salah satu dari sedikit perawi hadits yang berasal dari kalangan wanita. Pertama kali saya mengenal nama “Fusaila” adalah ketika membaca salah satu karya Syeikh Yasin al-Fadani (w. 1410 H) yang berjudul “Al-Arba’un al-Buldaniyah: Arba’una Haditsan ‘an Arba’ina Syaikhon min Arba’ina Baladan”, kumpulan 40 Hadits dari 40 Guru yang berasal dari 40 daerah. Dalam karyanya itu, beliau meriwayatkan suatu hadits dari Hadlratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari (w. 1366 H) yang bersambung sampai ke Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Imam Ahmad bin Hanbal -sebagaimana dalam Musnadnya- berkata:

حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ الشَّامِيُّ، مِنْ أَهْلِ فِلَسْطِينَ، عَنِ امْرَأَةٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهَا: فُسَيْلَةُ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ أَبِي، يَقُولُ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ مِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يَنْصُرَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ»

“Menceritakan kepada kami Ziyad ibn al-Robi’ al-Yuhmidi, beliau berkata: menceritakan kepada kami Abbad ibn Katsir al-Syami yang berasal dari penduduk Palestina, dari seorang wanita dari kalangan mereka yang disebut Fusailah, sesungguhnya dia berkata: saya mendengar Bapak saya berkata: Saya bertanya kepada Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, maka saya berkata:

Apakah termasuk ashobiyah (kefanatikan) jika seseorang mencintai kaumnya?

Maka Rasulullah menjawab:

Bukan, melainkan termasuk ashobiyah adalah jika seseorang membantu kaumnya dalam kedzoliman’.”

قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: «سَمِعْتُ مَنْ يَذْكُرُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ أَبَاهَا - يَعْنِي فَسِيلَةَ - وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ، وَرَأَيْتُ أَبِي جَعَلَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي آخِرِ أَحَادِيثِ وَاثِلَةَ،

Abu Abdirrahman Abdullah, putranya Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendengar dari seseorang dari kalangan ahli ilmu bahwa bapaknya (bapaknya Fusailah) adalah Watsilah bin Asqa’. Saya melihat bapak saya menjadikan hadits ini diletakkan di akhir hadits-haditsnya Watsilah.”

Selain Imam Ahmad (4/107 no. 16989 dan 4/160 no. 17472), hadits ini dikeluarkan pula oleh Al-Thabarani dalam al-Kabir (22/383, no. 955), Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (15/101, no. 37363), Al-Mizzi dalam Tahdzibnya (14/15), Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (396), Ibn Majah dalam Sunannya (2/1302, no. 3949) dan Al-Baihaqi dalam al-Adab (208). Menurut Syeikh Syu’aib al-Arna’uth dalam Tahkik Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (28/196-198), hadits ini termasuk hadits hasan.

Siapakah Fusaila itu?

Fusaila (Fusailah) tercatat termasuk golongan Tabi’in yang tinggal di Baitul Maqdis, Palestina. Sebagian ulama ada yang menyebutnya Khushailah atau Khashilah, dan ada pula yang menyebutnya Jamilah. Beliau adalah putri dari Watsilah bin al-Asqa’ bin Ka’b bin Amir dari Bani Laits bin Abdi Manah, seorang shahabat Nabi yang ikut mondok di Masjid Nabawi atau dikenal dengan istilah Ahlus Shuffah. Ayahnya itu masuk Islam sebelum perang Tabuk. Setelah Nabi wafat, beliau pindah ke Syiria dan ikut serta dalam peperangan Fath (pembebasan) Damaskus, Hama dan lain-lain. sampaiIbn Sa’d mencatat bahwa beliau meninggal di Damaskus-Syiria pada masa pemerintahan Abdul Malik pada tahun 83 H. Usianya saat itu mencapai 105 tahun. Sedangkan menurut al-Waqidi, beliau wafat pada tahun 85 H dan usianya mencapai 78 tahun. Disebutkan bahwa beliau termasuk shahabat yang terakhir meninggal dunia di Damaskus (Tahdzib al-Tahdzib, 11/101-102; al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, 6/462; Tahdzib al-Kamal, 1456).

Fusaila sendiri tercatat sebagai perawi hadits yang tsiqat, seperti disebutkan oleh Ibn Hibban dalam al-Tsiqatnya (4/215), dan beliau disebut pula sebagai perawi wanita yang bisa diterima (maqbulah) oleh al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani dalam al-Taqrib (752). Beliau meriwayatkan hadits dari bapaknya. Dan meriwayatkannya darinya beberapa perawi diantaranya, al-Batthal al-Khats’ami, Salamah bin Bisyr al-Dimasyqi, Shadaqah bin Yazid, Abbad bin Katsir al-Filasthini, Muhammad bin al-Asyaqar al-Lakhmi dan Ibn Rizam, sang mu’adzdzin Baitu Jibrin, Palestina. Hanya saja tidak saya temukan referensi yang menyebutkan kapan beliau wafat (Tarikh Damsyiq, 69/113 dan 70/44-45; Tahdzib al-Kamal, 35/144-145).

Fusaila atau Fasila?

Perlu saya sampaikan disini bahwa ada perbedaan cara baca dalam mengeja nama sang perawi wanita ini. Sebagian ulama menyebutnya “Fasilah”, sedangkan sebagian yang lain mengatakan “Fusailah” (dengan tashghir). Perbedaan ini direkam oleh Syeikh Ali al-Qari (w. 1014 H) dalam Mirqah al-Mafatih (7/3078):

(يُقَالُ لَهَا فَسِيلَةُ) : بِفَتْحِ فَاءٍ فَكَسْرِ سِينٍ مُهْمِلَةٍ، وَفِي نُسْخَةٍ بِالتَّصْغِيرِ

“(Wanita yang disebut Fasilah) dengan Fa’ yang dibaca fathah dan Sin yang dikasrah. Dalam satu redaksi dibaca tashghir, yakni Fusailah”.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (7/267) lebih memilih Fasilah. Beliau mengatakan bahwa “Fasilah” dibaca kasrah huruf Sin-nya seperti halnya bentuk lafadz “Adzimah”. Akan tetapi, dalam karya beliau yang lain, misalnya “Tabshir al-Muntabih bi Tahrir al-Musytabih” (3/1079), beliau mengatakan bahwa cara bacanya adalah Fusailah, yaitu dibaca dengan Sin dan ditashghir.

Cara baca tashghir ini (=Fusailah) ditetapkan pula oleh Ibn Nuqthah al-Hanbali (w. 629 H) dalam Ikmal al-Ikmal (4/485), Ibn Nashiruddin (w. 842 H) dalam Taudlih al-Musytabih fi Dlabth Asma’ al-Ruwah (7/103), Murtadla al-Zabidi (w. 1205 H) dalam karyanya Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus (30/159), serta oleh Syaraful Haq al-Adzim Abadi (w. 1329 H) dalam Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (14/18).

Wallahu a’lam.

Referensi
  • Al-Arba’un al-Buldaniyah: Arba’una Haditsan ‘an Arba’ina Syaikhon min Arba’ina Baladan, karya Syeikh Abu al-Faidl Muhammad Yasin ibn Isa al-Fadani al-Makki (w. 1410 H), Dar al-Basya’ir al-Islamiah, 1987 M
  • Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, karya Imam Abu al-Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwad (Ed.), Dar al-Kutub al-Ilmiah Beirut, 1315 H
  • Al-Tsiqat, karya Abu Hatim Muhammad ibn Hibban al-Darimi al-Busti (w. 354 H), Dr. Muhammad Abdul Mu’id Khan (Ed.), Da’irah al-Ma’arif al-Utsmaniah Hindia, 1393 H
  • Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (ma’a Hasyiah Ibn al-Qayyim), karya Syaraful Haq Muhammad Asyraf al-Adzim Abadi (w. 1329 H), Dar al-Kutub al-Ilmiah Beirut, 1415 H
  • Ikmal al-Ikmal = Takmilah al-Ikmal li Ibn Makula, karya Imam Mu’inuddin Muhammad ibn Abdul Ghani = Ibn Nuqthah al-Hanbali al-Baghdadi (w. 629 H), Dr. Abdul Qayyum Abdul Rabbin Nabi (Ed.), Jami’ah Umm al-Qura Mekah, 1410 H
  • Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashobih, Imam Abu al-Hasan Ali al-Mula al-Qori (w. 1014 H), Dar al-Fikr, Beirut, 1422 H
  • Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, karya Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal al-Syaibani (w. 241 H), Syu’aib al-Arna’uth dkk (Ed.), Mu’assasah al-Risalah Beirut, 1421 H
  • Tabshir al-Muntabih bi Tahrir al-Musytabih, karya Imam Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Muhammad Ali al-Najjar (Ed.), al-Maktabah al-Ilmiah Beirut, Lebanon.
  • Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, karya Imam Yusuf ibn Abdirrahman Jamaluddin al-Kalabi al-Izzi (w. 742 H), Dr. Bassyar Awwad Ma’ruf (Ed.), Mu’assasah al-Risalah Beirut, 1400 H.
  • Tahdzib al-Tahdzib, karya Imam Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H),Mathba’ah Da’irah al-Ma’rif al-Nidzamiah Hindia, 1326 H
  • Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, karya Syeikh Muhammad Murtadla al-Zabidi (w. 1205 H), Dar al-Hidayah
  • Tarikh Damsyiq, karya Imam Abul Qasim Ali ibn al-Hasan = Ibn Asakir (w. 571 H), Amr ibn Ghuramah al-Umrawi (Ed.), Dar al-Fikr li al-Thiba’ah wa al-Tauzi’, 1415 H
  • Taqrib al-Tahdzib, karya Imam Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Muhammad Awwamah (Ed.), Dar al-Rasyid Syiria, 1406 H
  • Taudlih al-Musytabih fi Dlabth Asma’ al-Ruwah wa Ansabihim wa Alqabihim wa Kunahum, karya Imam Syamsuddin Muhammad ibn Abdillah al-Qaisi al-Syafi’i = Ibn Nashiruddin (w. 842 H), Muhammad Na’im al-Arqisusi (Ed.), Mu’assasah al-Risalah Beirut, 1993 M


CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar