Menyambut Kelahiran Sang Jabang Bayi (Bag 2)


[3] Jangan terlalu membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan

Setelah sang jabang bayi sukses dilahirkan, maka sang orang tua pun baru tahu secara pasti apa jenis kelaminnya. Seringkali ada sebagian orang tua yang mengharapkan jenis kelamin tertentu, namun kelahiran sang bayi tadi tak memenuhi cita-cita itu. Akibatnya, yang seharusnya kelahiran sang jabang bayi tadi dipapak dengan suka cita, tapi malahan kekecawaan lah yang nampak di wajah sang orang tua. Oleh karenanya, Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, menulis pesan dan norma yang pertama kali untuk para orang tua saat menyambut lahirnya sang jabang bayi adalah tidak terlalu membeda-bedakan antara jenis kelamin laki-laki atau perempuan. 

Beliau menyatakan dalam Ihya’-nya:

الْأَوَّلُ أَنْ لَا يَكْثُرَ فَرَحُهُ بِالذَّكَرِ وَحُزْنُهُ بالأنثى فإنه لا يدري الخيرة فِي أَيِّهِمَا
“Etika pertama adalah seyogyanya dia (bapak dan/atau ibu) tidak bertambah kegembiraannya dengan hadirnya bayi laki-laki, atau sebaliknya bertambah kesedihannya dengan adanya bayi perempuan, karena dia tidak tahu munculnya kebaikan itu ada dimana dari keduanya” (Ihya’ Ulum al-Din, 2/53).
Terlalu membeda-bedakan antara anak laki-laki dan perempuan juga merupakan bagian dari praktik jahiliyah, dimana pada masa itu mereka sangat tidak terima dan merasa hina jika diberi keturuanan bayi perempuan. Kebiasaan mereka ini diabadikan dalam Firman Allah:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. Al-Nahl: 58-59)

Padahal apabila seseorang dianugrahi anak perempuan, lalu dia besarkan dan dia didik dengan baik, maka akan menjadi kebahagiaan dan kemudahan baginya untuk menuju Surga. Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ibn Mas’ud radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ كَانَتْ لَهُ ابْنَةٌ، فَأَدَّبَهَا وَأَحْسَنَ أَدَبَهَا، وَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا، وَأَسْبَغَ عَلَيْهَا مِنَ النِّعْمَةِ الَّتِي أَسْبَغَ اللَّهُ عَلَيْهِ؛ كَانَتْ لَهُ مَيْمَنَةً وَمَيْسَرَةً مِنَ النَّارِ إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barang siapa memiliki anak perempuan lalu dia mendidiknya dengan baik, merawatnya dengan baik pula serta menyempurnakan nikmat atas dirinya (anak) dari nikmat yang Allah sempurnakan untuknya, maka anak perempuan itu akan menjadi sebab kebahagian dan kemudahan (untuk selamat) dari Neraka dan (menuju) ke Surga”

~ HR. Al-Thabarani dalam Al-Kabir (10447) dan Al-Khara’ithi dalam Makarim Al-Akhlak (634). Menurut Al-Hafidz Al-Iraqi sanad hadits ini berderajat dla’if (Takhrij Ihya’, 2/53), sehingga masih boleh untuk dijadikan pegangan.

Dalam riwayat lain juga disebutkan dari Anas radliyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ خَرَجَ إِلَى سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ الْمُسْلِمِينَ، فَاشْتَرَى شَيْئًا، فَحَمَلَهُ إِلَى بَيْتِهِ، فَخَصَّ بِهِ الإِنَاثَ دُونَ الذُّكُورِ، نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ، وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ»

“Barang siapa pergi ke salah satu pasar (toko) diantara pasar-pasar orang islam, lalu membeli sesuatu dan membawanya pulang ke rumahnya, kemudian ia peruntukkan sesuatu itu untuk anak-anak perempuannya bukan anak laki-lakinya, maka Allah akan memandangnya dan barangsiapa yang Allah memandangnya, maka Dia tidak akan menyiksanya”

~ HR. Al-Khara’ithi dalam Makarim Al-Akhlak (643). Al-Hafidz Al-Iraqi mengatakan sanadnya dla’if (Takhrij Ihya’, 2/53).

[4] Mengadzani sang jabang bayi

Mayoritas ulama’ mensunahkan bahkan sangat menganjurkan untuk mengadzani sang jabang bayi melalui telinga kanannya, lalu mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya (Fiqh al-Islmai wa Adillatuhu, 4/2750). Ini sesuai hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ»

“Dari Abi Rafi’, beliau berkata: ‘Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumandangkan Adzan di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya, dengan adzan (seperti adzan untuk) shalat”

~ HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (4/336, no. 7986), Imam Ahmad dalam Musnadnya (6/391 dan 392), Abu Dawud (5/333, no. 5105) dan Al-Tirmidzi (5/107, no. 1553). Imam Al-Tirmidzi berkata: Hadits ini adalah hadits hasan shahih dan sering diamalkan. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Thabarani dalam al-Kabir (3/18, no. 2578) dan Al-Hakim (3/179). Imam Al-Hakim berkomentar bahwa sanadnya shahih. Hadits ini juga dinilai hasan oleh Al-Albani dalam al-Kalim al-Thayyib (210) dan al-Irwa’ (1173).

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan,

عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ»

“Dari Hasan bin Ali radliyallahu anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: ‘Barang siapa dilahirkan darinya seorang anak lalu dia mengadzani di telinga kanannya dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya, maka Umm al-Shibyan tidak akan mampu membahayakannya”

~ HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (15/99); Ibn Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah (623), Abu Ya’la dalam Musnadnya (12/150, no. 6780), Ibn Adi dalam al-Kamil (7/2656) dan Ibn Asakir dalam Tarikh Damsyiq (16/182). Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya’ (2/53) dan Syeikh Abdul Qadir al-Arna’uth dalam Takhrij al-Adzkar (286) menilai dla’if pada sanadnya, sehingga masih bisa diamalkan. Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqallani mengartikan Umm al-Shibyan sebagai jin perempuan (al-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits al-Rafi’i al-Kabir, 4/368; Subulus Salam, 2/544), atau sebagian ulama’ lain mengartikannya sebagai penyakit yang diderita di waktu kecil (Tuhfah al-Muhtaj, 9/376; Nihayah al-Muhtaj, 8/149).
Dari hadits-hadits tersebut tak mengherankan jika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagaimana diriwayatkan olah al-Hafidz Ibn Mundzir bahwasanya disaat beliau dianugerahi seorang anak/bayi, maka beliau mengadzani di telinga kanannya dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya (Syarh al-Sunnah, 11/273; Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, 7/2691; al-Mafatih fi Syarh al-Mashabih, 4/495; Nail al-Authar, 5/161; Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, 535). Kesunahan mengadzani ini boleh pula dikerjakan oleh wanita (sang Ibu) karena adzan pada kasus ini bukan termasuk adzan yang harus dikerjakan oleh laki-laki, melainkan hanya sekedar dzikir untuk tabarruk (mencari berkah), bahkan boleh pula dilakukan untuk bayinya orang kafir (Hasyiah Syubramalisi ala Nihayah al-Muhtaj, 8/149; Hasyiah Bujairami ala al-Khatib, 4/345)
Kalaupun ada sebagian ulama’ yang menilai hadits-hadits tadi sebagai hadits dla’if, tentu tidak serta merta menjadikan hadits tersebut tak patut untuk diamalkan, karena hadits dla’if yang berisi fadla’il a’mal masih bisa dipegangi dan diamalkan. Oleh karenanya, Syeikh Syu’aib al-Arna’uth dkk dalam Tahkik dan Takhrij Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (39/297-298) berkesimpulan:

“Walaupun haditsnya berderajat dla’if dalam masalah ini (mengadzani telinga bayi), namun jumhur ulama’ baik yang terdahulu maupun yang belakangan telah mengamalkannya. Ini lah maksud isyarah Imam al-Tirmidzi yang menyatakan ‘wa al-amal bihi’ (hadits ini sering diamalkan). Bahkan para ulama’-ulama’ ahli ilmi telah menyebutkannya dalam karya-karya mereka, membuat bab-bab khusus tentang itu dan mereka menyunahkan praktik tersebut. Silakan lihat “Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud” karya Ibn al-Qayyim.”

Begitulah kesimpulan para ulama’-ulama’ yang ahli tahkik tentang masalah ini. Kemudian kalau kita buka karya Syeikh Ibn al-Qayyim al-Jauziah (w. 751 H) yang disarankan oleh Syeikh Syu’aib al-Arna’uth tadi, maka akan kita temukan penjelasan beliau yang lebih mendalam tentang rahasia adzan bagi bayi. Beliau berkata:

"وسر التأذين، والله أعلم: أن يكون أول ما يقرع سمع الِإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الِإسلام، فكان ذلك كالتلقين له شعار الِإسلام عند دخوله إلى الدنيا؛ كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها.
وغير مستنكر وصول أثر التأذين إلى قلبه وتأثره به وإن لم يشعر به، مع ما في ذلك من فائدة أخرى وهي: هروب الشيطان من كلمات الأذان، وهو كان يرصده حتى يولد، فيقارنه للمحنة التي قدرها الله وشاءها، فيسمع شيطانه ما يضعفه ويغيظه أول أوقات تعلقه به.
وفيه معنى آخر، وهو: أن تكون دعوته إلى الله، وإلى دينه الِإسلام، وإلى عبادته سابقة على دعوة الشيطان، كما كانت فطرة الله التي فطر الناس عليها سابقة على تغيير الشيطان لها، ونقله عنها، ولغير ذلك من الحكم". اهـ.
“Rahasia mengadzani bayi -wallahu a’lam- adalah supaya apa yang pertama kali menggetarkan pendengaran manusia adalah kalimat-kalimat yang mengandung kebesaran sang Tuhan, keagungan-Nya dan Syahadat yang menjadi perantara masuk Islam. Maka itu seperti talqin baginya yang menjadi syi’ar Islam ketika memasuki dunia sebagaimana dia akan ditalqin dengan kalimah tauhid saat meninggalkan dunia."
Selain apa yang diingkari dari sampainya pengaruh adzan ke hatinya dan hatinya tetap terpengaruh walaupun dia tidak merasakannya, bersama dengan itu ternyata ada faidah lain, yaitu: berlariannya setan dari kalimat-kalimat adzan, disaat dia sudah mengintai bayi itu hingga dilahirkan kemudian menyertainya sebagai cobaan sebagaimana yang dikuasakan dan dikehendaki Allah, maka sang orang tua mendengarkan kepada setan apa yang mampu melemahkannya disaat sang bayi terperangkap olehnya untuk pertama kalinya.

Di dalam prosesi ini juga terdapat maksud yang lain, yakni supaya panggilan menuju Allah, panggilan kepada Agama-Nya (Islam) dan panggilan untuk menyembah-Nya mampu mendahului daripada panggilan setan, sebagaimana fitrah Allah untuk manusia lebih dulu ketimbang usaha setan untuk merubah atau mengganti fitrah tersebut, serta (dalam prosesi ini) juga mengandung hikmah-hikmah yang lain.” (Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, 37-38)

Selain mengumandangkan adzan, kita juga dianjurkan untuk membacakan di telinga kanan sang bayi Surah al-Ikhlash, sebagaimana riwayat dalam Musnad Ibn Razin disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah membacakan di telinga sang bayi Surah al-Ikhlash (Mughni al-Muhtaj, 6/143; Asna al-Mathalib, 1/550; Subul al-Salam, 2/544). Kemudian dianjurkan pula untuk membacakan QS. Ali Imran: 36 di telingi yang sama (telinga kanan), yang berbunyi (Tuhfah al-Muhtaj, 9/376; Nihayah al-Muhtaj, 8/149; al-Futuhat al-Rabbaniyah, 6/95):

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk” (QS. Ali Imran: 36)

Bersambung,

Al Khobar, 22 September 2017

*** Untuk kembali ke Bagian-1, silakan klil LINK ini ***

Referensi

  • Al-Jami’ al-Shahih li al-Sunan wa al-Masanid, karya Shuhaib Abdul Jabbar, Maktabah Syamilah, 2014 M.
  • ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya al-Hafidz Abi Bakr al-Syafi’i (Ibn Sunni) (w. 364 H), Dr. Abdurrahman Kautsar al-Barni (Ed.), Dar al-Arqam Beirut, 1418 H
  • Al-Adzkar al-Nawawiyah, karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Abdul Qadir al-Arna’uth (Ed.), Dar al-Fikr Beirut Lebanon, 1414 H
  • Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, karya Syeikh Wahbah ibn Mushtafa al-Zuhaili (w. 1436 H), Dar al-Fikr Damsyiq Syiria.
  • Al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala al-Adzkar al-Nawawiyah, karya Syeikh Muhammad ibn ‘Alan al-Shiddiqi (w. 1057 H), Jam’iah al-Nasyr wa al-Ta’lif al-Azhariyah, Maktabah Syamilah
  • Al-Mafatih fi Syarh al-Mashabih, karya Syeikh Husein ibn Mahmud al-Mudzhiri (w. 727 H), Nuruddin Thalib (Ed.), Dar al-Nawadir – Idarah al-tsaqafah al-Islamiyah Kuwait, 1433 H.
  • Asna al-Mathalib fi Syarh Rauld al-Thalib, karya Syeikh Zakaria al-Anshari (w. 926 H), Dar al-Kutub al-Islami.
  • Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, karya Syeikh Taqiyyuddin Abu Bakr Muhammad al-Hishni (w. 829 H), Ali Abdul Hamid dan Muhammad Wahbi (Ed.), Dar al-Khair Damsyiq, 1994 M.
  • Ihya’ Ulum al-Din, karya Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H), beserta al-Mughni ‘an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij Ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar karya Syeikh al-Hafidz Abdurrahim al-Iraqi (w. 806 H), Dar al-Ma’rifah, Beirut
  • Makarim al-Akhlak wa Ma’aliha wa Mahmud Thara’iqiha, karya Abu Bakr Muhammad al-Khara’ithi al-Samiri (w. 327 H), Aiman Abdul Jabir (Ed.), Dar al-Afaq al-Arabiyah Kairo, 1419 H
  • Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashobih, Imam Abu al-Hasan Ali al-Mula al-Qori (w. 1014 H), Dar al-Fikr, Beirut, 1422 H
  • Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfadz al-Minhaj, karya Imam Syamsuddin Muhammad al-Khathib al-Syirbini (w. 977 H), Dar al-Kutub al-Ilmiyah Beirut, 1415 H
  • Musnad Abi Ya’la al-Mushili, al-Hafidz Ahmad ibn Ali al-Tamimi (w. 307 H), Syeikh Husein Salim Asad (Ed.), Dar al-Ma’mun Li Turots, Damsyiq
  • Nail al-Authar, karya Syeikh Muhammad ibn Ali al-Syaukani al-Yamani (w. 1250 H), Ishamuddin al-Shababithi, Dar al-Hadits Mesir, 1413 H
  • Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, karya Imam Syamsuddin Muhammad al-Ramli (w. 1004 H), beserta Hasyiah Nuruddin ibn Ali al-Syubramalisi (w. 1087 H) dan Hasyiah Ahmad ibn Abdirrazzaq al-Maghribi al-Rasyidi (w. 1096 H), Dar al-Fikr, Beirut, 1404 H
  • Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Maram, karya Syeikh Muhammad ibn Isma’il al-Hasani al-Amir al-Shan’ani (w. 1182 H), Dar al-Hadits Mesir.
  • Syarh al-Sunnah, karya Muhyis Sunnah Abu Muhammad Husein al-Baghawi al-Syafi’i (w. 516 H), Syu’aib al-Arna’uth dan Muhammad Zuhair al-Syawisy (Ed.), al-Maktab al-Islami Damsyiq-Beirut, 1403 H
  • Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khathib (Hasyiah al-Bujairami ala al-Khathib), karya Syeikh Sulaiman al-Bujairami al-Syafi’i (w. 1221 H), Dar al-Fikr, 1415 H
  • Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, karya Syeikh Muhammad ibn Abi Bakr ibn Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H), Utsman ibn Jum’ah Dlamitiyah (Ed.), Majma’ al-Fiqh al-Islami Jeddah, 1431 H
  • Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj (ma’a Hawasyi al-Imam Abdul Hamid al-Syarwani [w. 1301 H] wa al-Imam Ahmad Ibn Qasim al-Abbadi [w. 992 H]), karya Ibn Hajar Ahmad Ibn Muhammad al-Haitami al-Syafi’i (w. 909 H), Dar Ihya’ al-turots al-Arobi, Beirut.

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar