Apakah Basmalah itu Al-Qur'an?

Esai kali ini masih membahas tentang basmalah. Perlu diketahui bahwa banyak sekali jumlahnya para Ulama’ Islam yang mumpuni dan sangat pantas untuk dijadikan rujukan dan panutan. Karena jumlahnya yang banyak, banyak pula variasi pendapat dan pemikiran mereka. Sehingga tak patut bagi kita untuk memaksakan pendapat pribadi kita kepada pihak lain yang kebetulan beda versi. Terkait masalah Ayat Basmalah, semua Ulama’ sepakat bahwa Basmalah yang terdapat pada ayat 30 Surah Al-Naml adalah bagian dari Ayat Al-Qur’an, yakni pada ayat:

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Akan tetapi para Ulama’ berbeda pendapat tentang basmalah yang terletak di awal setiap surah. Apakah basmalah itu termasuk ayat dari Al-Fatihah dan surah-surah yang lain atau bukan?

Madzhab Imam Syafi’i berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat Al-Fatihah dan juga termasuk ayat dari setiap Surah, sehingga Basmalah dihitung sebagai ayat ke-1 dari setiap surah kecuali Surah At-Taubah (yang emang tidak diawali dengan basmalah).  Salah satu alasan Imam Syafi’i adalah bahwa di dalam Mushaf terdahulu, basmalah ditulis di awal semua Surah termasuk Al-Fatihah (kecuali At-Taubah). Hal ini diketahui secara mutawatir, dan kita tahu juga bahwa para shohabat tidak menulis sesuatu di dalam Mushaf kecuali sesuatu itu bagian dari Al-Qur’an. Bahkan mereka sangat berhati-hati dalam proses penulisan itu. Para shohabat tidak memasukkan nama-nama surah dan juga tanda-tanda pembatas/baca dalam penulisan mushaf terdahulu, itu dikarenakan mereka khawatir semua itu akan dianggap sebagai bagian dari Al-Qur’an. Akan tetapi, kita temukan Basmalah pada setiap surah dalam mushaf terdahulu itu. Ini menunjukkan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surah dari surah-surah Al-Qur’an [1].

Pendapat Imam Syafi’i selaras dengan pendapat Imam-imam ahli qiro’at (Qurro’), diantaranya Ibn Katsir, ‘Ashim ibn Abin Najud, Hamzah Al-Kisa’i dan yang lainnya dari Qurro’ Mekah dan Kufah [2].

Guru dari Imam Syafi’i, yakni Imam Maliki, mempunyai pendapat yang sangat berlainan. Beliau berpendapat bahwa Basmalah tidak termasuk ayat, baik dari Al-Fatihah maupun surah-surah yang lain. Basmalah ditulis di awal surah pada dasarnya untuk tabarruk dan dalam rangka mengikuti anjuran untuk memakai basmalah di setiap urusan, demikian pendapat madzhab Maliki. Lebih lanjut, Ibn Al-Arobi yang bermadzhab Maliki berkata: Di Masjid Nabawi, sejak zaman Nabi shollallohu alaihi wasallam sampai zamannya Imam Maliki, tidak pernah ada seorangpun membaca basmalah di dalam Masjid ini dikarenakan mengikuti sunnah [1].

Pendapat Imam Maliki ini diikuti juga oleh sebagian besar para Ahli Fiqh Madinah, Bashrah dan Syam, serta para Qurro’ Madinah [2].

Pendapat yang lain ialah menyatakan bahwa basmalah itu (yang terletak di awal surah) termasuk ayat sempurna yang berdiri sendiri, dalam arti tidak termasuk bagian surah manapun, baik Al-Fatihah ataupun yang lainnya. Basmalah tersebut diturunkan untuk menjelaskan permulaan dan akhir dari setiap surah. Pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah dan diikuti oleh ulama-ulama’ muta’akhkhirin (kontemporer). Mereka beralasan bahwa basmalah termasuk ayat Al-Qur’an karena sudah sejak dulu ditulis dalam mushaf-mushaf terdahulu. Akan tetapi, basmalah tidak termasuk bagian dari surah Al-Fatihah dan surah-surah lain karena terdapat hadits yang menyatakan saat Nabi membaca dengan keras surah Al-Fatihah, beliau membaca pelan basmalahnya.

Ulama’-ulama’ kontemporer, semisal Syeikh Ali As-Shobuni menganggap pendapat Imam Hanafi inilah yang paling unggul diantara pendapat-pendapat yang ada. Karena pendapat ini lebih moderat dan tengah-tengah antara dua pendapat sebelumnya yang sangat berlawanan.


Wa-Allohu-A’lam.,


[1] Syeikh Ali As-Shobuni dalam Rowa’i’ul Bayan fi Tafsir Al-Ayat Al-Ahkam.

[2] Syeikh Muhammad Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi dalam Ihkamul Qonthoroh fi Ahkamil Basmalah.




CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar