Keberkahan Kitab Al-Ājurrumiyah


Salah satu kitab Nahwu (untuk kalangan pemula) yang paling masyhur dikalangan santri ialah kitab “المقدمة الآجُرُّومية في مبادئ علم العربية” atau yang lebih populer judul pendeknya, “Al-Muqaddimah Al-Ājurrumiyah” atau “Al-Jurrumiyah” (dengan dibuang hamzahnya). Sampai-sampai Syaikh Ibnu Al-Hājj mengatakan jika pertama kali yang dibaca kebanyakan orang setelah Al-Qur’an adalah Muqaddimah Al-Jurrumiyah (Idlāh al-Muqaddimah Al-Ājurrumiyah, 17). Saking berkah dan manfaatnya kitab ini, banyak sekali ulama yang memberikan penjelasan dan komentar (=membuat syarah) atas kitab ini, seperti yang dilakukan oleh Syaikh Al-Makudi (w. 807 H), Syaikh Al-Kafrāwi (w. 1202 H), Syaikh As-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (w. 1304 H) dan masih banyak lainnya. Sebagian ulama lain ada yang menyusunnya kembali menjadi sebuah nadham –seperti yang dilakukan Syaikh Syarafuddin Al-Umrithi (w. 989 H), supaya lebih mudah dihafal.

Kitab ini ditulis oleh seorang ulama ahli tata bahasa yang bernama Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shinhāji, atau yang lebih terkenal dengan panggilan Ibnu Ājurrum. “Ash-Shinhāji” adalah nisbat kepada kabilah Shinhajah yang ada di Maroko. Sedangkan “Ājurrum” berasal dari bahasa Barbar yang bearti “al-faqir” yang “shufi”, dan yang pertama kali dikenal dengan julukan ini adalah kakek beliau, Syaikh Dawud. 

Syaikh Ibnu Ājurrum lahir di kota Fes, Maroko, pada tahun 672 H, yang pada tahun itu Imam Ibnu Mālik wafat. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab. Beliau tercatat pernah belajar kepada Imam Abu Hayyan Al-Andalusi (w. 745 H), tokoh besar dalam Nahwu dan penulis kitab Al-Bahr Al-Muhith, hingga beliau memperoleh ijazah darinya. Setelah mejalani kehidupan yang penuh kesalehan dan keberkahan, pada hari Senin di bulan Safar setelah waktu zawal beliau wafat di kota kelahirannya pada tahun 723 H (Kasyf Adh-Dhunun, 1796-1798).

Kitab Al-Jurrumiyah pada dasarnya dikarang dengan cara meringkas kitab yang telah ada sebelumnya, yakni kitab "Al-Jumal fi an-Nahwi" karya Syaikh Abul Qasim Abdurrahman bin Ishaq Az-Zajjāji (w. 340 H). Hanya saja, Syaikh Az-Zajjāji lebih condong ke madzhab Al-Bashriyun, sedangan Syaikh Ibnu Ājurrum ke Al-Kufiyun. Imam As-Suyuthi (w. 911 H) dalam Bughyah Al-Wu’āh (1/238) menyebutkan bahwa dengan melihat karya Muqaddimahnya itu, terlihat jika beliau adalah pengikut madzhab Al-Kufiyun di bidang nahwu. Lalu Imam Suyuthi menyebutkan beberapa alasan, diantaranya:
  • Beliau, Ibnu Ajurrum, memilih istilah “Al-Khafdl” daripada “Al-Jarr”.
  • Beliau menyebut “al-amru majzum”, yang secara zahir bearti beliau menilai Fi’il Amr adalah Mu’rab (bukan Mabni). Ini adalah pendapat Al-Kufiyun.
  • Beliau memasukkan “Kaifamā (كيفما)” sebagai bagian dari Amil Al-Jawazim. Padahal Madzhab Al-Bashriyun menentang hal ini.

Syaikh Ibnu Ar-Rā’i (w. 853 H) dan Syaikh Ibnu Al-Hājj menyebutkan bahwa Kitab Al-Jurumiyah ini beliau karang saat beliau di Mekah. Diantara penyebab keberkahan kitab ini, wallahu a’lam tentunya, adalah apa yang dikisahkan oleh Syaikh Ibnu Ar-Rā’i dan yang lainnya bahwasanya beliau dalam mengarang kitabnya ini, yakni Muqaddimah Al-Jurrumiyah, beliau selalu menghadap ke Ka’bah Al-Musyarrafah. Syaikh Al-Hāmidi (w. 1316 H) dalam Hasyiahnya menambahkan, dikisahkan pula bahwa setelah beliau merampungkan karta tulisnya ini, beliau lempar kitab tersebut ke laut sembari berkata: 
“Jika (karyaku) ini murni karena Allah, maka kitab ini tidak akan basah (tintanya tidak luntur)”. Subhanallah, kitab tersebut benar-benar utuh sehingga bisa disalin dan dicetak sampai sekarang ini.
Dan yang menarik pula, kitab ini tidak hanya mengandung teori nahwu belaka, tetapi untaian kalamnya juga mengandung makna sufi. Adalah Syaikh Ibnu Ajîbah, penulis kitab Îqādzul Himam Syarh Al-Hikam dan Tafsir Bahrul Madid, mampu menafsirkan dan mensyarahi kitab Al-Jurumiyah ini dengan versi sufi atau isyari. Kitab syarh sufi ini kemudian diedit dan ditata ulang oleh Syaikh Abdul Qadir al-Kuhani dalam karyanya "Munyatul Faqir al-Mutajarrid wa Siratil Murid Al-Mutafarrid". Insya'Allah di lain waktu, kita bisa sedikit membahas syarh Jurrumiyah versi sufi ini.

Sekian.
@Abdul Latif Ashadi

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment