Etimologi ALLOH


Sebelum membahas arti “Alloh” secara etimologi, perlu disampaikan terlebih dahulu bahwasanya ada perbedaan Ulama’ tentang apakah Nama “Alloh” itu Musytaq (punya akar kata) atau Jamid (tidak punya akar kata).

Syeikh Ibn Ajibah dalam kitabnya Al-Bahrul Madid fi Tafsir Al-Qur’an Al-Majid menyatakan, “Alloh” itu isim murtajal-Jamid dan “al” disitu tergolong Lazimah bukan Ta’rif, seperti halnya huruf Za’ dalam kata “Zaidun”. Murtajal dalam arti sebelumnya lafadz itu tidak dipakai dalam bentuk apapun kecuali dalam bentuk Nama. Beliau menukil bahwa pendapat ini lah yang dipilih oleh Imam Ghazali, bahkan beliau (Imam Ghazali) pernah menyatakan:

كل ما قيل في اشتقاقه فهو تعسُّف
(Semua pendapat yang menyatakan musytaqnya lafadz jalalah “Alloh” tergolong serampangan).

Walaupun begitu, banyak Ulama’ juga yang manyatakan “Alloh” adalah musytaq. Syeikh Muhammad Amin Al-Harori dalam kitabnya Tafsir Hada’iqur Rouh war Roihan menyatakan: “Alloh” berasal dari kata ilahun (إله) mengikuti wazan fi’alun (فعال), kemudian hamzah-nya dibuang dan digantikan “Al”. Cara membacanya dengan Tafkhim karena untuk mengagungkan (ta’dzim).

Lebih lanjut beliau menyatakan: Isytiqoq (kata dasar)-nya adalah Alaha-ilahatan-uluhatan-uluhiyyatan (أله-إلهة-الوهة-الوهية) yang bermakna menyembah-sesembahan. Dengan kata lain, semua yang disembah bisa disebut “ilah” /tuhan. Tapi kalau merujuk kepada Dzat yang haq disembah, maka disebut “al-ilah” yang kemudian menjadi “Al-loh”. Yang oleh Dr. Nurcholis Majid bisa diterjemahkan menjadi Tuhan (dengan T besar) untuk membedakannya dari “ilah” atau tuhan (dengan t kecil).

Ada yang mengatakan bahwa lafadz “Alloh” berasal dari “aliha” yang bearti tahayyaro/bingung (ألِه : تحيّر), karena akal manusia akan bingung dalam mengenalnya (ma’rifat). Boleh juga berasal dari “aliha” seperti dalam “alihtu ila fulan“ yang bearti sakinah (tentrem), karena dengan menyebut nama-Nya hati kita menjadi tentrem/tenang. Atau mungkin juga berasal dari “alahahu ghoiruh” (ألهه غيره) yang bearti “ajarohu” (selain Dia berlindung kepada-Nya). Karena semua yang meminta perlindungan, akan meminta kepada-Nya, Dia lah pelindung sejati.

Sebagian Ulama’ yang lain berpendapat, Lafadz Jalalah itu berasal dari “Aliha” yang punya arti “Uli’a” (اولع)-sangat menyukai/mencintai. Karena hamba-hambaNya sangat suka/mencintai tadlorru’ (perendahan diri) kepada-Nya, terutama disaat waktu gundah gulana.

Ada juga yang mengatakan berasal dari laha-yalihu-lihan-lahan (لاه-يليه-ليها-لاها), yang bearti tertutup (terhijab) dan terbebas. Karena Dia tertutup dari penglihatan mata dan sekaligus terbebas dari segala sesuatu yang tak patut melekat pada-Nya.

Syeikh Ali As-Shobuni dalam “Tafsir Ayatil Ahkam”-nya menyatakan:
Yang shohih adalah lafadz “Alloh” itu tidak musytaq - alias jamid - dan lafadz ini dipakai menjadi nama yang merujuk kepada dzat yg tersucikan sekaligus Maha Suci dan Maha Luhur. Nama ini juga tidak dijadikan nama untuk selain-Nya, karenanya lafadz ini tidak bisa di-tatsniah-kan ataupun di-jama’-kan [Al-Bahrul Muhith karya Abi Hayyan].

Wa-Allohu A’lam….


CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar