Guru Kami, Kiai Hamdan (Bag 2/3)

Setelah mengenal nasab, kelahiran, masa kecil dan perjalanan ilmiah dari Guru Kami, Al-Maghfurlah KH. Hamdan Rofi'i, pada Bagian-1, sekarang kita akan melanjutkan dan masuk pada Bagian-2. Tak lupa sebelum membaca biografi ini, mari kita hadiahkan bacaan Al-Fatihah untuk Guru Kami ini. (Al-Fatihah...)

Masa Mengabdi

Setelah menguasai ilmu-ilmu alat (seperti nahwu, shorof dan lain-lain) serta beraneka ragam ilmu-ilmu syari’at, Guru Kami mulai mendapatkan perintah dari gurunya, Romo KH. Muhammad Ma’shum, untuk menjadi salah satu pengajar di pondok miliknya, yakni Pondok Pesantren Al-Hidayah, Lasem. Mulailah beliau mengajarkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh kepada para santri di pondok milik gurunya itu. Beliau mampu menularkan ilmu-ilmunya, mengupas hafalan-hafalnnya, serta mengisahkan beberapa kisah lewat syi’ir-syi’ir yang beliau hafal. Tak mengherankan jika beliau mendapatkan kedudukan mulia dalam kegiatan belajar mengajar yang beliau praktikkan itu.

Guru kami pernah menceritakan bahwa saat diawal-awal mengajar, ada beberapa Ustadz lain yang sinis terhadap beliau karena usia beliau yang masih sangat muda. Untuk menepis tudingan miring dan keragu-raguan dari beberapa pihak, beliau pun akhirnya mengeluarkan suatu permaslahan yang cukup musykil pada waktu itu. Beliau melempar pertanyaan kepada semua santri, kenapa diantara huruf Jar (Al-Khofdl) yang ada, adalah huruf Ba’ yang dipilih sebagai permulaan Bismillah. Kenapa tidak Min, ‘An, Lam, ‘Ala, Fi, atau huruf qosam yang dipilih? Ada rahasia apa disitu? Padahal kita tahu Bismillah adalah kata yang dijadikan awalan dari segala aktivitas, sehingga Ba' adalah huruf pertama yang diucapakan untuk mengawali semua aktivitas itu. Dari pertanyaan itu, tak satu pun santri yang mampu menjawab. Bahkan banyak Ustadz lain yang mendengar pertanyaan itu menjadi terheran-heran dan segan terhadap beliau. Akhirnya semua pihak mengakui ke-aliman beliau di usia beliau yang relatif muda.

Di sela-sela posisi beliau sebagai ustadz (pengajar pondok) tersebut, beliau bersama teman-temannya pernah mengadakan rihlah (perjalanan) ke Comal-Pemalang-Jawa Tengah untuk mengajar dan berda’wah selama beberapa hari. Beliau membuktikan diri sebagai sesosok orang yang berilmu yang dihiasi dengan ketaqwaan kepada Alloh SWT. Hal itu menambah pengalaman beliau di bidang mengajar dengan segala tujuan-tujuannya yang mulia dan mampu memadukan dengan metode yang baik dan benar.

Setelah perjalanan dan petualangan beliau dalam mencari ilmu terasa cukup, serta ditambah pengalaman dalam mengajar, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke desa kelahirannya. Saat menetap di desanya itu dan bersanding dengan kedua orang tuanya, beliau selalu menghiasi diri beliau dengan ilmu dan akhlak mulia. Sehingga setelah masyarakat mengamati dan bergaul langsung dengan beliau, mereka yang notabene sangat haus dengan ilmu akhirnya mengakui derajat tinggi beliau dalam ilmu dan kepakaran beliau dalam mengajar. Hal ini membuat mereka beserta anak-anak mereka berbondong-bondong datang ke beliau untuk meraih percikan akhlak beliau dan meneguk mata air ilmu beliau. Akhirnya beliau bersedia mengajar di Masjid (waktu masih berupa Musholla) dekat tempat tinggal beliau dalam bentuk halaqoh-halaqoh ilmiah dengan level yang bervariasi.

Guru Kami dan Pondok Al-Amanah

Setelah hari demi hari beliau jalani aktivitas mengajar di Masjid itu, akhirnya jumlah santri kian lama kian banyak. Dengan melihat kondisi itu, terfikirkanlah ide untuk membangun sebuah pondok pesantren yang berbasis salaf, yakni mengikuti metode pendahulu-pendahulu beliau dari kalangan salafus sholih. Karena dengan berdirinya suatu pondok pesantren, diharapkan mampu menampung jumlah santri yang lebih banyak dan juga lebih mudah membimbing para santri ke jalan yang benar baik dalam ilmu, suluk, akhlak maupun khidmah. Akhirnya Alloh pun mengabulkan ide dan keinginan beliau untuk mendirikan sebuah bangunan yang luhur, yang mampu memperkokoh posisi beliau dalam mengemban amanah yang agung ini, yaitu amanah yang Alloh hanya mengkhususkannya kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Bangunan itu pun berdiri dan diberi nama “Pondok Pesantren Al-Amanah” supaya ada kecocokan antara nama dengan yang dinamai. Pondok ini pertama kali didirikan pada sekitar tahun 1959 M. Lewat didikan beliau, banyak sekali alumni-alumni yang alim dan mulia yang merupakan lulusan dari Pondok ini. Dan Alhamdulillah, Pondok Pesantren ini senantiasa berkembang sampai hari ini dan tentu dengan beberapa perubahan demi mencapai kemajuan dan kesempurnaan.

Guru kami mempunyai aktivitas yang rutin dalam mengajar dan membimbing santri seperti halnya para sesepuh pendahulu beliau. Kegiatan belajar mengajar dimulai setelah jamaah Shalat Shubuh dengan kegiatan pertama adalah mengaji Al-Qur’an. Beliau menyimak bacaan dari setiap santri yang maju bergiliran. Setelah menyimak bacaan semua santri, beliau melanjutkan dengan mengkaji tafsir Al-Qur’an. Beberapa kitab tafsir yang pernah beliau kaji diantaranya Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Al-Miqbas min Tafsiri Ibn Abbas, Maroh Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid (Tafsir Al-Munir) dan lain-lain. Saat mengkaji tafsir, beliau selalu mencari perbandingan dari kitab-kitab tafsir yang lain, misalnya; Tafsir Al-Khozin, Ruh Al-Ma’ani (Tafsir Al-Alusi), Tafsir Ibn Katsir, Tafsir At-Thobari, dan lain-lain. Setelah jama’ah sholat Dzuhur, beliau mengkaji ilmu hadits secara riwayah sekaligus diroyah. Kitab hadits yang pernah beliau kaji diantaranya Sunan Ibn Majah, Riyadlus Sholihin, dan Shohih Al-Bukhori. Saat mengkaji Shohih Al-Bukhori, beliau selalu tak ketinggalan untuk membawa beberapa syarhnya yang meliputi; Fath Al-Bari Syarh Shohih Al-Bukhori karya Syeikh Ibn Hajar Al-Asqollani, ‘Umdah Al-Qori Syarh Shohih Al-Bukhori karya Syeikh Badr Al-Din Al-‘Aini, dan Irsad Al-Sari Li-Syarh Shohih Al-Bukhori karya Syeikh Syihabuddin Al-Qosthollani. Sedangkan setelah jama’ah Sholat Ashar, sebelum kajian dimulai, terlebih dahulu beliau mengajak semua santri untuk membaca beberapa wirid yang meliputi Sholawat Basya'ir Al-Khoirot dari Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani, Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah yang kemudia ditutup dengan do'a. Setelah itu, beliau memulai kajiannya yang biasanya berupa Fiqh dan Nahwu. Beberapa kitab yang pernah beliau kaji diantaranya Al-Mutammimah, Alfiyah Ibn Malik beserta Syarhnya Ibn Aqil, Fath Al-Mu’in, Nihayah Al-Zain, dan lain-lain.

Kajian kitab yang telah disebutkan adalah kajian rutin atau tahunan. Disela-sela itu, beliau juga pernah mengkaji kitab-kitab lain semisal Qashidah Al-Burdah karya Al-Bushiri, Mawahib Al-Laduniyah, Al-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Mukhtashor Al-Syafi dalam ilmu ‘Arudl, Balaghoh Al-Wadlihah dalam ilmu Balagloh, Ahla Musamaroh fi Bayani Aulia'il Asyroh, Ad-Daiba’i, Al-Barjanzi dan masih banyak yang lain. Aktivitas kajian beliau yang terakhir adalah mengaji (tata baca) Al-Qur’an setelah Jama’ah Maghrib. Jadi beliau mengawali kajiannya dengan Al-Qur’an dan mengakhiri dengan Al-Qur’an pula. Sedangakan aktivitas santri setelah jama’ah sholat Isya’ adalah ngaji model Madrasah. Dimana para santri mendapat pengajaran dari para Ustadz Pondok dengan beragam cabang ilmu agama secara restruktur. Mulai dari akidah, tajwid, nawhu, fiqh, akhlak hingga kegiatan ekstra kurikuler Pondok.

Disela-sela kesibukan beliau dalam mengurus santri, Guru kami juga mempunyai aktivitas mingguan yang diperuntukkan untuk kalangan masyarakat sekitar. Paling tidak ada dua kegiatan mingguan yang rutin diadakan dan dipimpin sendiri oleh beliau. Kegiatan pertama adalah pembacaan Ratib Al-Attas setiap Senin malam Selasa setelah Jama'ah Sholat Maghrib. Ratib Al-Attas sendiri adalah sebuah kumpulan wirid yang disusun oleh Al-Allamah Al-Habib Umar ibn Abdurrahman Al-Attas. Diantara khasiatnya bagi pengamal Ratib ini ialah dipanjangkan usianya, memperoleh Husnul Khotimah dan senantiasa berada dalam perlindungan Alloh. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri dan para jama'ah yang aktif sholat di Masjid beliau. Kegiatan mingguan kedua ialah acara yang dikenal dengan nama "Ngaji Selasanan" karena diadakan setiap hari Selasa siang, dan acara ini biasanya dihadiri ratusan jama'ah yang terdiri dari ibu-ibu serta bapak-bapak. Kegiatan ini dibuka dengan Bacaan Tahlil dan disambung dengan beranekaragam wirid-wirid yang ma'tsur dari Nabi Agung Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam. Kumpulan wirid ini telah dibukukan oleh putra beliau, KH. Abdullah Haedar Hamdan, yang diberi judul "Al-Lu'lu' wal Marjan fi Aurodi Walidi Al-Kiyahi Hamdan". Setelah pembacaan wirid selesai, acara selanjutnya ialah do'a yang kemudian ditutup dengan mau'idzoh hasanah (kajian agama) langsung dari Guru kami.

Dengan semakin banyaknya jumlah santri dan semakin tua usia beliau, dalam melanjutkan amanah beliau sebagai pengasuh pondok, beliau dibantu kedua putranya, yaitu KH. Ahmad Anas M.S.I dan KH. Abdullah Haedar Al-Hafidz, serta menantu beliau, KH. Sa’dullah. Dari sekian banyaknya santri beliau, ada beberapa alumni yang menonjol dan menjadi kiai bahkan mampu mendirikan Pesantren secara mandiri. Sebagian yang kami kenal ialah diantaranya Kiai Mastur, Kiai Abdul Hamid, KH. Anshorulloh Al-Hafidz, KH. Sholikhan, KH. Akhyar Al-Hafidz, Kiai Ahmad Afif, dan lain-lain. Perlu diketahui, KH. Sholikhan adalah pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qur’an Ponorogo. Beliau termasuk santri kesayangn Guru kami dan seorang anak petani yang tinggal dekat dengan lokasi pondok. Disaat beliau tekun mengaji dan menghafal Al-Qur’an dihadapan Guru kami, banyak tetangga yang berkomentar miring dan sinis dengan tekad beliau itu. Guru kami pun tidak tinggal diam, beliau bangun tengah malam dan sholat berkali-kali untuk mendo’akan secara khusus santrinya itu. Akhirnya sang santri tetap diberi pertolongan sampai beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dan sekarang sang santri mendapatkan ilmu yang bermanfaat bahkan menjadi pengasuh utama di salah satu Pondok Pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Semoga Alloh selalu memberikan manfaat kepada kita di dunia dan akhirat. Amin.

Kehidupan Berkeluarga dan Bermasyarakat

Setelah pulang dari pengembaraan mencari ilmu, Guru kami ingin memulai kehidupan berkeluarga layaknya seorang pemuda dewasa pada umumnya.  Beliau pun akhirnya mempersunting seorang wanita sholihah yang bernama Zumrotun putri Haji Abu Bakr disaat usia beliau menginjak 20an tahun. Peran sang istri sangat jelas dalam perjalanan da’wah beliau, terlebih khusus dalam perkembangan pondok pesantren kedepannya. Sang istri bagi beliau menjadi sebaik-baik pendamping dan penolong hingga akhir hayat beliau.

Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai tiga anak;

1. KH. Ahmad Anas, M.SI
Beliau adalah anak pertama dari Guru kami yang saat ini menjadi pegawai di Kementrian Agama Kabupaten Demak. Beliau meraih gelar Magister Studi Islam  (M.S.I) dari UIN Walisongo Semarang. Beliau mendapatkan pendidikan agama langsung dari abahnya kemudian KH. Abdullah Mu’thi Badawi, KH. Manshur Lasem, Kiai Mustholih Badawi dan lain-lain dari para Kiai. Putra-putri beliau dintaranya; Muhammad Nouval Ardan, Muhammad Nur Haromain, ‘Afina dan Muhammad Nur Afaq.

2. Hj. Kho’ifah
Beliau adalah anak kedua yang kemudian menikah dengan KH. Sa’dullah. KH. Sa’dullah sendiri termasuk salah satu pengajar di PP Al-Amanah dan juga di Madrasah Miftahul Ulum, Weding. Beliau dianugrahi dua putra yaitu, Muhammad Mutsanna Al-Hafidz dan Nur Qoyyum.

3. KH. Abdullah Haedar Al-Hafidz
Beliau adalah anak terakhir dari Guru kami yang kemudian mendapat kesempatan untuk belajar di tanah suci Mekah selama lebih dari tujuh tahun. Beliau juga meraih gelar Magister Studi Islam dari Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Di Mekah, beliau menimba ilmu dari para ulama’ Mekah diantaranya yang paling lama ialah kepada Al-‘Arif Billah As-Sayyid Nabil Ibn Hasyim Al-Ghomri. Dari Sayyid Al-Ghomri ini, beliau mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dengan tujuh macam qiro’ah dari jalur Al-Syathibiyah selain riwayat Warosy dan As-Syamiy. Guru-guru beliau yang lain adalah Syeikh Husein Ibn Abdirrohim Al-Falimbani –ulama’ terakhir yang meriwayatkan hadis secara langsung dari Muhaddits Al-Haromain Syeikh Umar Hamdan Al-Mahrosi-, Syeikh Muhammad Zaini Bawiyan, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Sayyid Hamid Ibn Alawi Al-Kaaf, Sayyid Umar Ibn Hamid Al-Jailani, Syeikh Abdus Syakur Al-Mudzohiri, dan lain-lain dari Ulama’-ulama’ Mekah. Beliau juga mendapat ijazah dari para Ulama’ lain, diantaranya; Al-Waly Syeikh Muhammad Amin Al-Harori, Al-Habib Ali ‘Aidid, Syeikh Muhammad Ali As-Shobuni, Syeikh Akrom Ibn Abdil Wahhab Al-Mushili, Al-Mufti Abdullah Ibn Umar Al-Ahdal, Sayyid Muhammad Ibn Ahmad AL-Ahdal dan lain-lain. Beliau baru memiliki dua anak, yaitu Muhammad Nabil dan Najma.

Sebagai tambahan informasi, Guru kami adalah anak pertama dari lima bersaudara. Keempat adik-adik beliau secara berurutan ialah; Kiai Manaf –yang diganti menjadi Abdullah Mubarok oleh Sayyid Nabil Al-Ghomri saat berkunjung ke Pondok Al-Amanah-, Al-Maghfur lah Kiai Mushonnif, Musa’adah, dan Maisun. Semoga Alloh memberkahi keturunan Guru Kami, keluarga serta santri beliau di Dunia dan Akhirat. Amin.

Bersambung ke BAGIAN-3.

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar