Mengintip Kerahasiaan Malam Lailatul Qadr


Salah satu malam mulia yang begitu diharapkan oleh para penikmat ibadah selama Bulan Ramadlan adalah malam Lailatul Qadr, malam yang melebihi seribu bulan. Pada malam itu Alloh pernah menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh al-Mahfudz ke Bait al-‘Izzah yang berada di Langit Dunia, yang kemudian diwahyukan kepada Nabi Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sesuai peristiwa dan kondisi yang beliau alami selama 23 tahun. Seperti itulah yang dikatakan oleh Ibn Abbas dan yang lainnya, serta diceritakan pula oleh Imam Mawardi (Tafsir Qurthubi 2/130; Tafsir Ibn Katsir 8/447; Ruh al-Bayan 10/479). Menurut Syeikh Isma’il Haqqi (w. 1127 H) dalam kitab tafsirnya Ruh al-Bayan (10/479-480), peristiwa ini memberikan isyarat bahwa Bait al-Izzah merupakan tempat (maqom) di langit yang paling mulia setelah Lauh al-Mahfudz. Beliau juga menjelaskan bahwa proses penurunan al-Qur’an secara keseluruhan itu dilakukan di malam hari (malam Lailatul Qadr) dan tidak di siang hari adalah karena kebanyakan dari kemuliaan (karomaat), turunnya anugerah (nafahaat), dan juga Isro’-Mi’roj terjadi pada malam hari. Malam hari juga termasuk dari (karakter) Surga karena merupakan waktu istirahat, sedangkan siang hari bagian dari Neraka karena merupakan waktu bekerja dan kepayahan. Bahkan ibadah tertentu yang dikerjakan di malam hari lebih utama ketimbang ibadah yang sama yang dikerjakan di siang hari.
Menurut sebagian kalangan, Lailatul Qadr adalah malam yang paling utama diantara malam-malam yang ada, padahal tidaklah demikian. Paling tidak menurut kalangan Syafi’iah, malam yang paling utama nan mulia adalah malam disaat sang Baginda Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dilahirkan ke dunia (Maulud Nabi), baru kemudia Malam Lailatul Qadr, Malam Jum’ah, dan baru disusul Malam Isra’ Mi’raj. Demikian ini jikalau dilihat dari sisi pandang kita sebagai Umat Islam. Sedangkan jika dilihat dari sisi pribadi Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka malam yang paling mulia bagi beliau adalah malam Isra’ & Mi’raj, karena pada malam itu Beliau diberi anugerah mampu melihat langsung sang Maha Pencipta, Alloh azza wajalla (Hawasyi al-Syarwani 2/405; Hasyiah Bujairomi ala al-Khotib 2/181).
Asal Usul Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr marupakan salah satu keistimewaan khusus (khosho'ish) yang dianugerahkan oleh Alloh untuk umat Nabi Muhammad  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (al-Majmu’ 6/452). Dalam arti, umat-umat sebelumnya tidak mendapatkan keistimewaan malam ini. Penulis kitab al-‘Uddah -yang termasuk Imam di kalangan Syafi’iyah, menyatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas Ulama’. Bahkan al-Khotthobi mengategorikan sebagai ijma’ Ulama’. Dan perlu diketahui juga bahwa Malam Lailatul Qadr akan senantiasa ada sampai terjadinya Hari Kiamat (Tuhfah al-Muhtaj 3/463), tidak seperti anggapan sebagian kelompok Syi’ah yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr telah dihapus secara total (Tafsir Ibn Katsir 8/446). Terkait asal-usul dianugerahkannya Lailatul Qadr untuk umat ini, Imam al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Tafsirnya yang masyhur, al-Jami’ Li’ahkami al-Qur’an (20/131-133) menyebutkan ada beberapa peristiwa yang melatarbelakanginya, sebelum dianugrahkannya malam mulia itu kepada umat kekasihNya, Nabi Muhammad  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Beberapa peristiwa itu adalah:

[1] Sesuai yang disampaikan oleh Imam Abu Bakr al-Warraq (w. 240 H) bahwasanya kerajaan Nabi Sulaiman bertahan selama 500 bulan, begitu juga kerajaan Dzul Qornain bertahan selama 500 bulan, sehingga dua kerajaan adidaya itu pernah berkuasa selama 1000 bulan. Kemudian Alloh menjadikan amal ibadah di Malam yang mulia ini (Lailatul Qadr) lebih baik dari dua kerajaan tersebut.

[2] Dari Ibn Mas’ud, bahwa Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menceritakan tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang selalu membawa senjata untuk berjihad fi sabilillah selama seribu bulan lamanya. Maka Orang-orang Muslim yang mendengarnya kagum dengan orang tersebut, kemudian turunlah ayat Al-Qadr: 1-3, dimana malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan, yakni seribu bulan dari lelaki tadi. Hal yang sama juga diceritakan oleh Ibn Abbas ra. Imam Wahb ibn Munabbih menambahkan bahwa lelaki tadi adalah seorang muslim yang Ibunya telah menjadikannya sebagai nadzar kepada Alloh. Penduduk desa yang ia tempati adalah para penyembah berhala. Kemudia ia dengan sendirian berjihad dan berperang melawan mereka. Saat berperang, dia selalu membawa dua tulang langit-langit mulut dari Onta. Disaat ia kehausan, maka memancarlah air yang jernih dari kedua tulang itu. Dengan meminum air tersebut, maka ia mendapatkan kekebalan dimana ia tidak bisa dilukai dengan pedang atau besi. Dia bernama Syamsun (شَمْسونُ) (Tafsir al-Qurthubi 20/132; Tarikh al-Thobari 1/794).

[3] Dari Ka’b al-Akhbar, beliau berkata: Ada seorang Raja dari Bani Israil yang mempunyai suatu perangai baik. Kemudian Alloh menurunkan wahyu kepada seorang Nabi pada zaman itu untuk menanyai sang Raja tentang apa yang ia inginkan. Sang Nabi pun akhirnya menemui sang Raja. Raja kemudian berkata: “Saya menginginkan untuk bisa berjihad dengan hartaku, anakku, serta diriku”. Maka Alloh menganugerahkan kepadanya seribu anak. Setiap anak –secara bergantian- dipersiapkan oleh sang Raja dengan hartanya untuk terjun di medan perang dalam rangka berjihad fi sabilillah. Sang anak mampu bertahan selama sebulan dan kemudian terbunuh. Uniknya, setiap anaknya mengalami hal yang sama, berperang selama sebulan dan kemudian terbunuh. Selama itu pula, sang Raja beribadah di malam hari dan berpuasa di siang harinya. Setelah seribu anaknya terbunuh selama seribu bulan, dia pun akhirnya ikut berperang dan kemudian terbunuh dalam perang itu. Melihat kejadian itu, para manusia berkata bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melebihi kedudukan sang Raja tersebut. Kemudian Alloh menurunkan ayat: “Malam Lailatul Qadr lebih mulia dari seribu bulan”, yaitu seribu bulan yang dialami sang Raja, baik berupa ibadah malamnya, puasanya, jihadnya, hartanya, dirinya maupun anak-anaknya yang berjuang di jalan Alloh.

[4] Sayyidina Ali dan Urwah juga benah bercerita bahwa Nabi Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menyebutkan ada empat orang dari Bani Israil yang beribadah kepada Alloh selama 80 tahun dengan tanpa bermaksiat sekejap mata pun. Kemudian Nabi menyebut nama Ayyub, Zakaria, Hizqil Ibn al-Ajuz, dan Yusya’ Ibn Nun. Para Shahabat pun terkagum-kagum dengan keempat tokoh itu. Kemudian Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata: “Wahai Muhammad, ummatmu terkagum-kagum terhadap hamba-hamba Alloh tadi yang selama 80 tahun tidak pernah bermaksiat sedikit pun, maka sesungguhnya Alloh telah menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu”. Kemudian Jibril membaca ayat “Innaa anzalnaahu fi lailatil qadr”. Kemudian Nabi pun merasa gembira dengan itu.

[5] Imam Malik Ibn Anas (w. 179 H) menyebutkan dalam karyanya al-Muwattho’, bahwasanya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah diperlihatkan panjangnya usia umat-umat terdahulu, maka seolah-olah dengan pendeknya usia umat Beliau, Nabi berkesimpulan jikalau umatnya tidak akan mampu menyamai amal ibadah umat-umat terdahulu karena panjangnya usia mereka. Maka Alloh menganugerahkan untuk Nabi dan umatnya Malam Lailatul Qadr, dan menjadikannya lebih utama daripada 1000 bulan (Tafsir al-Qurthubi 20/132; Tafsir Ibn Katsir 8/445).

Arti Lailatul Qadr

Ada beberapa pandangan dari para Ulama’ tentang arti Lailatul Qadr. Imam Mujahid misalnya menyatakan bahwa Lailatul Qadr adalah lailatul hukmi wal taqdir, yaitu malam putusan atau penetapan. Disebut malam al-Qadr atau al-Taqdir karena pada malam itu Alloh menetapkan segala sesuatu dari apa yang Dia kehendaki -baik berupa urusan kematian, rizki maupun yang lainnya, sampai malam Lailatul Qadr di tahun berikutnya. Kemudian Alloh menyerahkan keputusan ini kepada para Malaikat yang bertugas mengatur urusan tadi, yaitu Malaikat Isrofil, Mika’il, Izro’il dan Jibril alaihimus salam. Shohabat Ibn Abbas juga mengatakan bahwa pada malam itu segala sesuatu yang terjadi selama setahun akan ditulis di Umm al-Kitab, termasuk urusan rizki, hujan, kehidupan, kematian bahkan orang yang akan naik haji. Shohabat Ikrimah menambahkan jikalau orang-orang yang akan berhaji, nama mereka dan nama bapaknya ditentukan dan dicatat pada malam Lailatul Qadr, sampai tidak ada seorang pun yang kelewatan atau kelebihan. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Shohabat Sa’id ibn Jubeir ra (Tafsir al-Qurthubi 20/130-131). Sebagian Ulama’ menambahkan jikalau pada malam itu segala urusan terkait rizki, tanaman dan hujan diserahkan kepada Malaikat Mika’il. Yang terkait dengan bencana alam, semisal gempa, angin, petir dll diserahkan kepada Malaikat Jibril. Yang terkait dengan amal perbuatan, maka diserahkan kepada Malaikat Isrofil. Sedangkan terkait musibah dan kematian, diserahkan kepada Malaikat Maut (Tafsir Ruh al-Bayan 10/482).

Ada pendapat lain dari Imam al-Zuhri dan yang lainnya, bahwasanya malam itu disebut Lailatul Qadr karena keagungannya (idzom), kedudukannya (qodr) dan kemuliannya (syarof). Karena ketaatan yang dikerjakan pada malam itu akan memperoleh kedudukan (qodron) yang agung dan pahala yang teramat banyak. Senada dengan itu, Imam Abu Bakr al-Warraq berkata: Disebut malam Lailatul Qadr karena siapapun yang tidak mempunya qadr (kedudukan/kehormatan), dia bisa menjadi orang yang berkedudukan (dza qadr) bila mampu menghidupkan malam itu. Lain lagi menurut Imam Sahl, beliau berkata bahwa disebut Lailatul Qadr karena pada malam itu Alloh mentakdirkan (qoddaro) di dalamnya rahmat untuk kaum mukminin. Sedangkan Imam Kholil ibn Ahmad (w. 170 H), seorang ahli bahasa terkemuka, berpendapat bahwa disebut malam Lailatul Qadr karena pada malam itu kondisi Bumi menjadi sempit karena penuh dengan para Malaikat. Kata al-Qadr diartikan sebagai Dliqun -yang bearti sempit. Seperti pada ayat (وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ) al-Thalaq: 7 yang diartikan sebagai “Dan orang yang disempitkan rizkinya” (Tafsir al-Qurthubi 20/130-131; Tafsir Ruh al-Bayan 10/482-483).

Arti Seribu Bulan

Secara khusus Alloh menyebutkan bahwa Malam Lailatul Qadr lebih utama ketimbang seribu bulan. Ada beberapa pandangan dari para Ulama’ tentang maksud dari seribu bulan ini. Mayoritas dari para Ahli Tafsir berpendapat bahwa beramal dan beribadah di Malam itu lebih utama dan lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan -yang tidak mengandung Lailatul Qadr. Sebagian Ulama’ lain berpendapat, yang dimaksud seribu bulan adalah semua masa, karena orang Arab menyebut kata seribu untuk menunjukkan sesuatu yang maksimal. Seperti dalam ayat “يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ” [Al-Baqoroh: 96], “Masing-masing dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun” yang diartikan sebagai “hidup selamanya”. Sebagian Ulama’ juga ada yang mengatakan, seorang yang ahli ibadah tidak akan disebut sebagai al-‘Abid (ahli ibadah) sampai dia menyembah dan beribadah kepada Allloh selama 1000 bulan, yakni selama 83 tahun lebih 4 bulan, maka Alloh menjadikan ibadah semalam di Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada 1000 bulan yang secara khusus dianugerahkan kepada Umat Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ supaya mereka semua menjadi al-Abid (Tafsir al-Qurthubi 20/131).

Kapan Munculnya Lailatul Qadr?

Pada dasarnya kemunculan Lailatul Qadr termasuk perkara rahasia yang disembunyikan oleh Alloh SWT, seperti halnya rahasia-rahasia yang lain. Akan tetapi, ada orang tertentu yang dikehendaki oleh Alloh bisa menyaksikan hakikat Lailatul Qadr di setiap tahunnya. Banyak sekali cerita dan kabar dari para Ulama’ yang sholih tentang itu. Walaupun menurut Imam al-Mawardi (w. 450 H), disunahkan bagi orang yang melihat Lailatul Qadr untuk menyembunyikannya, kemudian dia berdo’a dengan ikhlas untuk segala yang ia inginkan -baik berupa urusan dunia maupun agama, hanya saja do’a yang berupa urusan agama dan akhirat lebih diperbanyak (al-Majmu’ 6/461).

Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) dalam karya besar beliau, Mafatih al-Ghoib atau dikenal juga dengan sebutan al-Tafsir al-Kabir (32/229-230) menyatakan bahwa Alloh merahasiakan Malam Lailatul Qadr karena beberapa hal, diantaranya:

[1] Alloh merahasiakannya seperti Dia merahasiakan perkara-perkara yang lain. Seperti Alloh merahasiakan ridloNya diantara ketaatan, supaya umat Islam menginginkan dan menyukai ketaatan seluruhnya. Alloh menyembunyikan murkanya diantara kemaksiatan, supaya kita menghindari kemaksiatan seluruhnya. Dia merahasiakan waliNya diantara manusia (umat Islam), supaya kita menghargai manusia seluruhnya. Dia menyembunyikan terjawabnya sebuah do’a, supaya kita bersungguh-sungguh di setiap do’a. Dia merahasiakan al-Ism al-A’dzom, supaya kita mengagungkan semua Asmaul Husna. Dia menyembunyikan Sholat al-Wustho, supaya kita menjaga semua Sholat. Dia merahasiakan diterimanya suatu taubat, supaya kita selalu menekuni semua jenis taubat. Dia merahasiakan datangnya kematian, supaya kita merasa takut. Begitu pula Alloh merahasiakan Malam Lailatul Qadr, supaya kita mengagungkan seluruh malam selama Bulan Ramadhan.

[2] Seakan-akan Alloh bersabda: “Jika aku nyatakan kapan itu Lailatul Qadr, padahal Aku tahu keberanian kalian untuk bermaksiat, maka disaat Malam itu datang dan nafsu syahwat mendorong kalian untuk bermaksiat dan kalian pun akhirnya jatuh ke jurang kemaksiatan, maka kemaksiatan yang dibarengi dengan pengetahuan lebih buruk daripada kemaksiatan yang tidak dibarengi pengetahuan (bahwa malam itu adalah Lailatul Qadr). Oleh karena itu, Aku sembunyikan malam itu atas kalian”. Jika kita tahu kapan munculnya Lailatul Qadr, maka disaat kita bertaat maka akan memperoleh pahala 1000 bulan. Akan tetapi jika kita bermaksiat pada malam itu maka akan mendapatkan siksa 1000 bulan. Padahal menolak siksa itu lebih diutamakan daripada mendatangkan pahala.

[3] Alloh merahasiakan Malam Lailatul Qadr supaya umat Islam bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Karena Alloh akan menghitung pahala atas usaha yang bersungguh-sungguh.

[4] Seorang hamba yang tidak tahu persis kapan munculnya Lailatul Qadr, tapi dia terus berusaha dengan sungguh-sungguh dalam ketaatan di setiap malam Bulan Ramadhan -dengan harapan bertetapan dengan Malam mulia itu, maka Alloh akan membanggakannya di hadapan para Malaikat.

Terlepas dari itu, banyak juga Ulama’ yang mempunyai perkiraan tentang munculnya Malam Lailatul Qadr, walaupun jumlahnya sangat bervariasi dan berbeda-beda. Syeikh Khotib al-Syirbini (w. 977 H) menyebutkan ada sekitar 30 pendapat yang berbeda-beda akan hal itu (Mughni al-Muhtaj 2/189). Berikut kami sampaikan beberapa prediksi dari para Ulama’ tentang kapan munculnya Lailatul Qadr (Tafsir al-Qurthubi 20/134-137; Tafsir Ibn Katsir 8/448-450):

1. Lailatul Qadr terjadi pada malam pertama Bulan Ramadhan
Ini adalah pendapat Abu Rozin al-‘Uqoili.

2. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-17 Bulan Ramadhan
Termasuk yang berpendapat demikian adalah Hasan al-Bashri, Ibn Ishaq, dan Abdullah ibn Zubeir. Mereka mengacu pada terjadinya perang Badr di siang harinya. Imam Abu Dawud juga meriwayatkan pendapat ini dari Abdullah Ibn Mas’ud.

3. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-19 Bulan Ramadhan
Diriwayatkan bahwa ini adalah pendapat Sayyidina Ali dan juga Ibn Mas’ud.

4. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-21 Bulan Ramadhan
Sesuai Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori (Adzan, 135) dan Muslim (1167) dari Abu Sa’id al-Khudri. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa Hadits ini adalah riwayat yang paling shohih.

5. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-23 Bulan Ramadhan
Pendapat ini berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (1168) dari Abdullah Ibn Unais.

6. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-24 Bulan Ramadhan
Imam Abu Dawud al-Thoyalisi (2167) meriwayatkan Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri bahwasanya Rosul صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menyatakan demikian. Imam Ibn Katsir (8/447) menyatakan bahwa sanadnya termasuk tsiqot. Imam Ahmad dalam Musnadnya (6/12) juga meriwayatkan dari Bilal Ibn Abi Robah dengan redaksi yang sama. Hanya saja Haditsnya Dlo’if.

7. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-25 Bulan Ramadhan
Sesuai Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori (2021) dari Ibn Abbas yang menyebutkan Tasi’ah tabqo (menurut Imam Maliki adalah malam 21), Sabi’ah tabqo (malam 23), dan Khomisah tabqo (malam 25).

8. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-27 Bulan Ramadhan
Pendapat ini diriwayatkan dari banyak Shahabat, diantaranya Mu’awiyah, Ibn Umar dan Ibn Abbas. Bahkan merupakan pendapat mayoritas Madzhab Hanbali dan termasuk satu riwayat dari Imam Hanafi. Syeikh Abu Bakr al-Warroq menjelaskan bahwa lafadz “Lailatul Qadr” yang terdiri dari 9 huruf diulang dalam Al-Qur’an sebanyak 3 kali, maka kita dapatkan angka 27.

9. Lailatul Qadr terjadi pada malam ke-29 Bulan Ramadhan
Sesuai Hadits dari Imam Ahmad (2/519) dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menyebut Lailatul Qadr jatuh pada malam 27 atau 29.

10. Lailatul Qadr terjadi pada malam terakhir Bulan Ramadhan
Pendapat ini mengacu Hadits dari Imam al-Tirmidzi (794) dan al-Nasa’i (3404) yang menyebutkan bahwa Lailtul Qadr terjadi pada malam 21, 23, 25, 27 atau malam terakhir.

11. Bisa dilihat dari hari pertama Bulan Ramadhan (teori Imam Ghozali dan yang lainnya)
Imam Ghozali dan yang lainnya dari kalangan para Shufi memiliki teori tersendiri yang menyatakan bahwa munculnya Lailatul Qadr bisa diketahui lewat hari pertama Bulan Ramadlan tahun tersebut. Mereka menyebutkan jika awal Ramadhan jatuh pada Hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam 29. Jika hari pertama adalah Senin, maka jatuh pada malam 21. Jika awal Ramadhan adalah Hari Selasa atau Jumat, maka jatuh pada malam 27. Jika hari pertama adalah Kamis, maka jatuh pada malam 25. Jika Hari Sabtu adalah awal Ramadhan, maka jatuh pada malam 23.
Syeikh Abu al-Hasan al-Bakri* (w. 952 H) mengatakan: Semenjak usia dewasa (baligh), saya tidak pernah kelewatan akan malam Lailatul Qadr karena memakai kaidah ini” (Hawasyi al-Syarwani 3/362-463; Hasyiah al-Qolyubi 2/96-97; Hasyiah Jamal ala Syarh al-Manhaj 2/357; Hasyiah al-Bujairomi ala Syarh al-Manhaj 2/93; I’anah al-Tholibin 2/291).
(*) Perlu dipahami bahwa Abu al-Hasan yang disebut di kitab-kitab fiqh tadi adalah bukan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 656 H), melainkan al-Bakri (w. 952 H). Yang menyebutkan nama secara lengkap adalah Hasyiah Jamal ala Syarh al-Manhaj (2/357), sedangkan kitab yang lainnya hanya menyebut Abu al-Hasan. Beliau bernama lengkap Abu al-Hasan Ali Ibn Jalaluddin Muhammad al-Bakri al-Shiddiqi al-Syafi’i, ahli hadits, sufi, ahli tafsir, fiqh, dll. Salah satu ulama’ besar madzhab Syafi’i yang menulis Syarh al-Minhaj, Syarh al-Roudl, dan Syarh al-Ubab. Beliau wafat di Mesir tahun 952 H. Kemudian dimakamkan di dekat makam Imam Syafi’i. Beliau pernah belajar kepada Syeikhul Islam Zakaria al-Anshori dan Imam Qosthollani (Syadzarot al-Dzahab 8/292).

Syeikh al-Allamah al-Qolyubi (w. 1068 H) dalam Hasyiahnya (2/97) menadzomkan kaidah diatas dengan sya’ir beliau:

يَا سَائِلِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ الَّتِي ~**~ فِي عَشْرِ رَمَضَانَ الْأَخِيرِ حَلَّتْ
فَإِنَّهَا فِي مُفْرَدَاتِ الْعَشْرِ ~**~ تُعْرَفُ مِنْ يَوْمِ ابْتِدَاءِ الشَّهْرِ
فَبِالْأَحَدْ وَالْأَرْبِعَا فِي التَّاسِعَهْ ~**~ وَجُمُعَةٍ مَعَ الثَّلَاثَا السَّابِعَهْ
وَإِنْ بَدَا الْخَمِيسَ فَالْخَامِسَةُ ~**~ وَإِنْ بَدَا بِالسَّبْتِ فَالثَّالِثَةُ
وَإِنْ بَدَا الِاثْنَيْنِ فَهْيَ الْحَادِي ~**~ هَذَا عَنْ الصُّوفِيَّةِ الزَّهَّادِيَّ

12. Teori dalam kitab Hasyiah Showi ala Tafsir al-Jalalain
Syeikh Ahmad Ibn Muhammad al-Showi al-Kholwati al-Maliki (w. 1241 H) dalam kitabnya Hasyiah al-Showi ala Tafsir al-Jalalain (4/584) menyebutkan bahwa sebagian Ulama’ ahli kasyf memang menentukan waktu terjadinya Malam Lailtul Qadr dengan mengikuti kapan awal Ramadhan dimulai. Imam Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 656 H) -seorang shufi besar, berpendapat:

فعن أبي الحسن الشاذلي: إن كان أوله الأحد فليله تسع وعشرين، أو الاثنين فإحدى وعشرين، أو ثلاثاء فسبع وعشرين، أو الأربعاء فتسع وعشرين، أو الخميس فخمس وعشرين، أو الجمعة فسبع عشرة، أو السبت فثلاث وعشرين

“Jika awal Ramadhan jatuh pada Hari Ahad, maka Lailatul Qadr akan muncul pada malam 29. Jika jatuh pada Hari Senin, maka tanggal 21. Jika Hari Selasa, maka akan muncul pada malam 27. Bila jatuh pada Hari Rabu, maka malam 29. Jika Hari Kamis, maka malam 25. Jika awal Ramadhan adalah Hari Jum’at, maka malam 17. Dan jika jatuh pada Hari Sabtu, maka tanggal 23”.

Sebagian Ulama’ lain juga mempunyai pedoman yang lain pula, yaitu:

يا حب الاثنين والجمعة مواعيدك***واحد والأربعا طي لتبعيدك
بكالى السبت هيي يا خميس عيدك***كابد ثلاثاً ليالي القدر مع سيدك
“Jika awal Bulan Ramadhan adalah Hari Senin atau Jumat, maka Lailatul Qadr akan jatuh pada malam 21, yang disimbolkan dengan (يا حب). Jika hari Ahad atau Rabu, maka malam 29 (طي). Jika Hari Sabtu, maka malam 23 (بكالى). Jika Hari Kamis, maka malam 25 (هيي). Jika Hari Selasa, maka malam 27 (كابد)”.
13. Teori lain yang mirip teori sebelumnya
Ada sebagian Ulama yang memiliki teori mirip dengan teori Imam Ghozali dan yang lainnya, yaitu berdasarkan hari pertama Bulan Ramadhan. Mereka berkata (Hawasyi Syarwani 3/462-463; Hasyiah Bujairomi ala al-Khotib 2/410; I’anah al-Tholibin 2/291):

وَإِنَّا جَمِيعًا إنْ نَصُمْ يَوْمَ جُمُعَةٍ ~**~ فَفِي تَاسِعِ الْعِشْرِينَ خُذْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
وَإِنْ كَانَ يَوْمُ السَّبْتِ أَوَّلَ صَوْمِنَا ~**~ فَحَادِي وَعِشْرِينَ اعْتَمِدْهُ بِلَا عُذْرِ
وَإِنْ هَلَّ يَوْمُ الصَّوْمِ فِي أَحَدٍ فَفِي ~**~ سَابِعِ الْعِشْرِينَ مَا رُمْت فَاسْتَقْرِي
وَإِنْ هَلَّ بِالِاثْنَيْنِ فَاعْلَمْ بِأَنَّهُ ~**~ يُوَافِيك نَيْلُ الْوُصُولِ فِي تَاسِعِ الْعَشْرِيّ
وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ إنْ بَدَا الشَّهْرُ فَاعْتَمِدْ ~**~ عَلَى خَامِسِ الْعِشْرِينَ تَحْظَى بِهَا قَادِرِ
فِي الْأَرْبِعَاءِ إنْ هَلَّ يَا مَنْ يَرُومُهَا ~**~ فَدُونَك فَاطْلُبْ وَصِلْهَا سَابِعَ الْعَشْرِ
وَيَوْمَ الْخَمِيسِ إنْ بَدَا الشَّهْرُ فَاجْتَهِدْ ~**~ تُوَافِيك بَعْدَ الْعَشْرِ فِي لَيْلَةِ الْوِتْرِ

“Jika kita semua (memulai) berpuasa pada Hari Jumat, maka raihlah Lailatul Qadr pada malam 29. Jika awal puasa kita adalah Hari Sabtu, maka pegangi pada malam 21. Bila hilal Ramadhan terlihat pada Hari Ahad, maka tetapkanlah pada malam 27. Jika hilal terlihat pada Hari Senin, maka Lailatul Qadr akan memunuhimu pada malam 29. Bila awal bulan terlihat pada Hari Selasa, maka pegangilah pada malam 25. Ketika hilal tampak pada Hari Rabu, maka carilah Lailatul Qadr pada malam 17. Dan jika Bulan Ramadhan tampak pada Hari Kamis, maka akan jatuh pada hari ganjil setelah tangal 20”

Menghidupkan Malam Lailatul Qadr

Sangat dianjurkan bagi siapapun yang mengharapkan Lailatul Qadr untuk beriktikaf kemudian memperbanyak Sholat, membaca Al-Qur’an, dan berdo’a -terutama dengan do’a:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا

Cara yang paling minimal dalam menghidupkan Malam Lailatul Qadr menurut para Ulama’ adalah dengan Sholat Isya’ dan Shubuh secara berjamaah. Barang siapa mampu melakukannya pada setiap malam Bulan Ramadhan, maka ia telah memperoleh kemuliaan Lailatul Qadr. Kalau ingin derajat diatasnya (Thoriqoh al-Wustho), maka dengan menghidupkan sebagian besar malamnya. Sedangan cara yang paling tinggi (Thoriqoh al-Ulya) adalah dengan menghidupkan semalam suntuk untuk beribadah secara total.

Sebagian tanda-tanda munculnya Lailatul Qadr adalah pada malam itu tidak terasa panas maupun dingin (طَلِقَةٌ), kemudian pada pagi harinya Matahari terlihat cerah (putih) yang tidak begitu banyak sinar, karena sinar-sinarnya tertutupi oleh banyaknya Malaikat yang berseliweran di Langit. Disunahkan juga pada siang hari dari Lailatul Qadr untuk beribadah seperti pada malam harinya, yaitu dengan membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan ibadah yang lain (Mughni al-Muhtaj 2/189; Hasyiah Bujairomi ala al-khothib 2/411; Hasyiah al-Jamal ala Syarh al-Manhaj 2/355).

Wa Alloh A’lam,

Referensi

  1. Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshori Syamsuddin al-Qurthubi (w. 671 H), al-Jami’ Li-Ahkam al-Qur’an = Tafsir al-Qurthubi, Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo. Versi Maktabah Syamilah
  2. Abu al-Fidza’ Isma’il Ibn Umar Ibn Katsir al-Basyri al-Syafi’i (w. 774 H), Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Dar Thoibah Lin-Nasyr wal Tauzi’. Versi Maktabah Syamilah
  3. Abu Abdillah Muhammad Ibn Umar al-Taimi –Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Mafatih al-Ghoib = al-Tafsir al-Kabir, Dar Ihya’ al-turots al-Arobi, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  4. Abu al-Fidza’ Isma’il Haqqi Ibn Musthofa al-Istanbuli al-Hanafi al-Kholwati (w. 1127 H), Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  5. Ahmad Ibn Muhammad al-Kholwati al-Showi al-Maliki (w. 1241 H), Hasyiah al-Showi ala Tafsir al-Jalalain, Maktabah al-Ashriyah, Beirut.
  6. Abu Zakaria Muhyiddin Yahya Ibn Syarof al-Nawawi al-Syafi’i (w. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (ma’a Takmilah al-Subki wal-Muthi’i), Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  7. Ibn Hajar Ahmad Ibn Muhammad al-Haitami al-Syafi’i (w. 909 H), Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj (ma’a Hawasyi al-Imam Abdul Hamid al-Syarwani [w. 1301 H] wa al-Imam Ahmad Ibn Qasim al-Abbadi [w. 992 H]), Dar Ihya’ al-turots al-Arobi, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  8. Abu Abdillah Jalaluddin Muhammad Ibn Syihabuddin Ahmad al-Mahalli al-Sayfi’i (w. 864 H), Kanz al-Roghibin fi Syarh Minhaj al-Tholibin (ma’a Hasyiah al-Syeikh Ahmad Salamah al-Qolyubi [w. 1069 H] wa al-Syeikh Ahmad Amiroh [w. 957 H]), Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  9. Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad al-Khothib al-Syirbini (w. 977 H), Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfadz al-Minhaj, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  10. Syeikhul Islam Zakaria Ibn Muhammad al-Anshori al-Syafi’i (w. 926 H), Fath al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab (ma’a Hasyiah Sulaiman Ibn Umar al-Ujaili al-Azhari –al-Jamal [w. 1204 H] = Futuhat al-Wahhab bi Taudlih Syarh Manhaj al-Thullab), Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  11. Syeikhul Islam Zakaria Ibn Muhammad al-Anshori al-Syafi’i (w. 926 H), Fath al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab (ma’a Hasyiah Sulaiman Ibn Muhammad al-Bujairomi al-Mishri [w. 1221 H] = al-Tajrid Linaf’i al-Abid), Mathba’ah al-Halabi, Kairo. Versi Maktabah Syamilah
  12. Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad al-Khothib al-Syirbini (w. 977 H), al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’ (ma’a Hasyiah Sulaiman Ibn Muhammad al-Bujairomi al-Mishri [w. 1221 H] = Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khothib), Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  13. Abu Bakr Utsman Ibn Muhammad Syatho al-Dimyathi –al-Bakri (w. 1310 H), I’anah al-Tholibin ala Halli Alfadzi Fath al-Mu’in, Dar al-Fikr, Beirut. Versi Maktabah Syamilah
  14. Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thobari (w. 310 H), Tarikh al-Umam wa al-Muluk = Tarikh al-Thobari, Dar al-Turots, Beirut. Versi Maktabah Syamilah




CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar