Mekanisme Mentarjih Qoul dalam Madzhab al-Syafi’i

Disaat Madzhab Imam al-Syafi’i (150 – 204 H) menyebar ke penjuru Dunia dan diikuti oleh mayoritas Ulama’-Ulama’ besar Islam pada zamannya, maka timbul lah beberapa perbedaan pendapat diantara para Ashhab Imam Syafi’i maupun para Ulama’-ulama' setelahnya. Sehingga lahir lah Ulama’-Ulama’ besar Islam setelah Imam al-Syafi’i –mulai dari yang berpredikat sebagai Mujtahid Muthlaq, Mujtahid Muqoyyad/Mujtahid Takhrij/Ashhab al-Wujuh, Mujtahid Tarjih, Mujtahid Fatwa sampai Nudzdzor al-Tarjih-, yang kesemuanya senantiasa gigih dalam menyeleksi dan mentarjih perbedaan tersebut, baik diantara beberapa Qoul, Wajh, Thoriq maupun Nash. Kemudian sampailah kita pada masa sekarang ini, dimana teori pentarjihan diantara pendapat yang ada di dalam kitab-kitab fiqh Madzhab al-Syafi’i telah disepakati bahkan menjadi sebuah mekanisme “paten”.

Berikut ini adalah urutan tingkatan tarjih dari sekian pendapat Ulama’ Syafi’iyyah ketika terjadi khilaf atau perbedaan. Teori tarjih ini juga telah disepakati oleh Ulama’-Ulama’ ahli tahkik (al-Muhaqqiqun) dari masa ke masa:
  1. Pendapat yang paling unggul dalam Madzhab al-Syafi’i adalah pendapat (qoul) yang disepakati oleh Syeikhon (dua Syeikh), yakni Imam Abu Zakaria Yahya Ibn Syarof al-Nawawi (631 – 676 H) dan Imam Abu al-Qosim Abdul Karim Ibn Muhammad al-Qozwini al-Rofi’i (557 – 623 H).
  2. Jika terjadi khilaf diantara Imam al-Nawawi dan Imam al-Rofi’i dan tidak ada Ulama’ yang mentarjih diantara keduanya, atau sama-sama ada yang mentarjih, maka pendapat yang diunggulkan adalah pendapat Imam al-Nawawi
  3. Jika terjadi pentarjihan dari salah satu pendapat Imam al-Nawawi atau Imam al-Rofi’i, maka pendapat yang ditarjih itu lah yang diunggulkan.
  4. Ketika Imam al-Nawawi tidak berkomentar atau menetapkan, maka yang dipilih adalah pendapat Imam al-Rofi’i.
  5. Jika Imam al-Nawawi maupun Imam al-Rofi’i tidak berkomentar atau menetapkan, maka pendapat yang dipakai adalah pendapat dari mayoritas Ulama’.
  6. Jika tidak ada, maka pendapat yang ditetapkan oleh Ulama’ yang paling alim.
  7. Jika tidak ada, maka pendapat yang ditetapkan oleh Ulama’ yang paling wira’i
  8. Jika tidak ada, maka -menurut Ulama’-Ulama’ Hadlromaut, Syam, mayoritas Yaman dan Hijaz, yang diunggulkan adalah pendapat dari Imam Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hajar al-Haitami al-Makki (909 – 974 H). Sedangkan menurut Ulama’-Ulama’ Mesir, yang diunggulkan adalah pendapat Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad al-Romli (919 – 1004 H) yang dijuluki sebagai al-Syafi’i al-Shoghir (Imam Syafi’i kecil). Bahkan menurut Ulama’ Muta’akhkhirin al-Syafi’iyyah (Ulama’ generasi terakhir pengikut al-Syafi’i) menyatakan bahwa tidak diperbolehkan berfatwa dengan pendapat yang menyalahi dua Imam tadi, yakni Imam Ibn Hajar al-Haitami dan Imam Syamsuddin al-Romli.
  9. Setelah itu, baru pendapat Syeikh al-Islam Abu Yahya Zakaria al-Anshori (823 – 926 H)  ketika tidak ditentang oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami dan/atau Imam al-Romli.
  10. Setelah itu, pendapat Imam Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad al-Khothib al-Syirbini (w. 977 H) penulis kitab Mughni al-Mughtaj Il-syarh Alfadzi al-Minhaj dan al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’.
  11. Pendapat Syeikh Nuruddin Ali Ibn Yahya al-Ziyadi (w. 1024 H) dalam kitabnya Hasyiah al-Ziyadi ala Syarh al-Manhaj (Manhaj al-Thullab).
  12. Pendapat Syeikh Syihabuddin Ahmad Ibn Qasim al-‘Abbadi (w. 994 H) dalam kitabnya Hasyiah Ibn Qosim al-‘Abbadi ala Tuhfah al-Muhtaj syarh al-Minhaj.
  13. Pendapat Syeikh Syihabuddin Ahmad al-Burullusi al-Mishri (w. 957 H) yang dijuluki dengan sebutan Amiroh. Beliau menulis kitab Hasyiah ala Kanz al-Roghibin Syarh Minhaj al-Tholibin dan Hasyiah ala Tuhfah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj.
  14. Pendapat Syeikh Nuruddin Abu al-Dliya’ Ali Ibn Ali al-Syabromallisi (w. 1087 H) dalam kitabnya Hasyiah ala Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj
  15. Pendapat Syeikh Nuruddin Ali Ibn Ibrohim Ibn Ahmad al-Halabi al-Qohiri (w. 1044 H) dalam kitabnya Hasyiah ala Syarh al-Manhaj (Manhaj al-Thullab).
  16. Pendapat Syeikh Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad al-Syaubari al-Mishri (w. 1069 H) dalam kitabnya Hasyiah ala Syarh Manhaj al-Thullab.
  17. Pendapat Syeikh Syamsuddin Muhammad Ibn Dawud Ibn Sulaiman al-Inani al-Mishri (w. 1098 H) dalam kitabnya Hasyiah ala Umdah al-Robih fi Ma’rifah al-thoriq al-Wadlih karya al-Romli.

Perlu dicatat bahwa kadangkala pendapat seorang Ulama’ yang dicantumkan dalam salah satu karyanya berbeda dengan yang dicantumkan dalam karyanya yang lain. Misalnya kita dapati pendapat yang dicantumkan Imam al-Nawawi dalam karyanya Roudloh al-Tholibin terdapat perbedaan dengan pendapat Imam al-Nawawi sendiri dalam karyanya al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab misalnya. Hal ini bukan merupakan problem baru di kalangan ahli fiqh. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita menilik kriteria atau mekanisme yang ditetapkan oleh para Fuqoha’ dalam memilih dan menyeleksi pendapat dari seorang Imam yang tersebar diantara karya-karyanya. Berikut ini adalah mekanisme mentarjih jika terjadi perbedaan pendapat diantara karya-karya Imam al-Nawawi (w. 676 H), -secara berurutan dimulai dari yang paling unggul:
  1. Pendapat beliau dalam kitabnya al-Tahqiq, yang beliau tulis sampai pada pertengahan Bab Sholat Musafir. Kitab ini telah dicetak Dar al-Jil Beirut dalam 309 halaman.
  2. Pendapat beliau dalam karyanaya al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab karya Syeikh Abu Ishaq al-Syairozi. Walaupun beliau baru sampai pada Kitab al-Buyu’, tapi sudah setebal 9 juz besar. Kemudian dilanjutkan oleh Imam al-Subki sampai Bab Bai’ al-Mushirrot (sekitar 3 juz), lalu disempurnakan oleh Syeikh al-Muthi’i sampai akhir (sekitar 8 juz). Secara keseluruhan kitab ini telah dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah (DKI) Beirut dalam 27 jilid besar.
  3. Pendapat beliau dalam kitab al-Tanqih syarh al-Wasith li al-Imam al-Ghozali (w. 505 H). Beliau baru sampai pada Bab Syuruth al-Sholah.  
  4. Pendapat beliau dalam kitab Roudloh al-Tholibin wa Umdah al-Muftiin, ringkasan kitab Fath al-Aziz syarh al-Wajiz karya Imam al-Rofi’i (w. 623 H). Kitab ini dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah (DKI) Beirut dalam 8 volume.
  5. Pendapat beliau dalam kitabnya Minhaj al-Tholibin, yang merupakan ringkasan dari kitab Al-Muharror karya Imam al-Rofi’i (w. 623 H) dan merupakan kitab Matn yang penting dalam fiqh Syafi’i.
  6. Pendapat beliau dalam kitab Fatawinya, atau dikenal juga dengan nama al-Mantsurot wa “Uyun al-Masa’il al-Muhimmat. Dalam kitab ini, fatwa-fatwa beliau dikumpulkan oleh salah satu murid beliau yang bernama Syeikh Ali al-Aththor (w. 724 H).
  7. Pendapat beliau dalam karyanya Syarh Shohih Muslim yang diberi judul al-Minhaj fi Syarh Shohih Muslim Ibn al-Hajjaj. Kitab ini dicetak Dar al-Kutub al-Ilmiyah (DKI) Beirut dalam 10 jilid.
  8. Pendapat beliau dalam kitabnya Tashhih al-Tanbih, yang merupakan koreksi beliau terhadap kitab al-Tanbih karya Imam Abu Ishaq al-Syairozi (w. 476 H).
  9. Pendapat beliau dalam kitabnya Nukat al-Tanbih.

Sedangkan jika terjadi perbedaan diantara kitab-kitab karya Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H), maka pendapat beliau yang paling diunggulkan secara berurutan adalah sebagai berikut:
  1. Pendapat beliau dalam kitabnya Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, yang merupakan syarh (komentar) atas kitab Minhaj al-Tholibin karya Imam al-Nawawi (w. 676 H). Kitab ini dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah (DKI) beserta dua Hasyiahnya: Hasyiah al-Syarwani dan Ibn Qosim al-‘Abbadi dalam 13 jilid.
  2. Pendapat beliau dalam kitabnya Fath al-Jawwad bi Syarh al-Irsyad Lil-Imam Ibn Muqriy (w. 837 H). Kitab ini dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah (DKI) Beirut dalam 3 jilid besar.
  3. Pendapat beliau dalam kitabnya al-Imdad fi Syarh al-Irsyad.
  4. Pendapat beliau dalam kitabnya al-I’ab fi Syarh al-Ubab li-Syeikh al-Muzajjad (w. 930 H).
  5. Pendapat beliau dalam kitabnya al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro.
Perlu diketahui juga, jika terjadi perbedaan antara kitab Tuhfah al-Muhtaj karya Ibn Hajar al-Haitami, + Nihayah al-Muhtaj karya Imam Syamsuddin al-Romli dengan kitab yang lain, maka yang dijadikan rujukan dan diunggulkan adalah pendapat yang ada di kedua kitab tersebut. Sedangkan diantara kitab-kitab karya Syeikh al-Islam Zakaria al-Anshori (w. 926 H) yang bisa menjadi rujukan utama adalah kitab Syarh al-Bahjah kemudian Syarh al-Manhaj, karena kedua kitab ini tidak menyimpang dari kitab Tuhfah dan Nihayah tadi, kecuali hanya dalam masalah diperbolehkannya bagi seorang istri untuk menfasakh nikahnya karena kepergian suaminya yang sudah tidak bisa dilacak keberadaannya.

Sehingga sangat keliru jika ada seorang “Ustadz” yang asal comot pendapat Imam al-Syafi’i dan/atau Ashhabnya kemudian mengklaim bahwa pendapat ini lah yang harus diikuti Umat Islam Indonesia yang notabene secara mayoritas bermadzhab al-Syafi’i. Apalagi jika yang bersangkutan tidak pernah mengaji kitab-kitab fiqh Madzhab Syafi’i secara benar dan dalam. Padahal kita harus tahu, setiap madzhab pasti mempunyai mekanisme tersendiri yang harus diikuti tentang bagaimana berfatwa, bahkan hanya sekedar merujuk pada qoul ulama’-ulama’nya, apalagi sekelas Madzhab Syafi’i yang diikuti oleh banyak sekali Ulama’-ulama’ besar Islam sejak zaman dahulu hingga saat ini. Memang tidak mudah bukan?

Referensi

  • Al-Fawa’id al-Madaniyyah fi Man Yufta Biqoulihi min A’immah al-Syafi’iyyah, karya Syeikh Muhammad Ibn Sulaiman al-Kurdi (1127 – 1194 H), tahkik: Bassam Abdul Wahhab al-Jabi, Dar Nur al-Shobah dan Dar al-Jaffan Lebanon.
  • al-Fawa’id al-Makkiyyah fi ma Yahtajuhu Tholabah al-Syafi’iyyah min al-Masa’il wa al-Dlowabith wa al-Qowa’id al-Kulliyyah, karya al-‘Allamah al-Syeikh Alawi Ibn Ahmad al-Saqqof al-Makki (1255 – 1335 H), tahkik: Muwaffiq Sholih al-Syeikh, Mu’assasah al-Risalah.
  • Mukhtashor al-Fawa’id al-Makkiyyah fi ma Yahtajuhu Tholabah al-Syafi’iyyah, karya al-‘Allamah al-Syeikh Alawi Ibn Ahmad al-Saqqof al-Makki (1255 – 1335 H), tahkik: Dr. Yusuf Ibn Abdurrahman al-Mar’asyli, Dar al-Basya’ir al-Islamiyyah Beirut.
  • Al-Madkhol ila Dirosah al-Madzahib al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad, Dar al-Salam Kairo.
  • Al-Madkhol ila Madzhab al-Imam al-Syafi’i, karya Dr. Akrim Yusuf al-Qowasimi, Dar al-Nafa’is Yordan.  


CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar