Apakah Imam Al-Mawardi (w. 450 H) Seorang Mu’tazilah?

Salah satu imam besar dalam literatur fiqh madzhab Syafi’i adalah Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Al-Bashri Al-Mawardi (364 – 450 H/974 – 1058 M), penulis kitab Al-Hawi Al-Kabir (20 jilid) dalam fiqih Syafi’i, al-Nukat wa al-‘Uyun/Tafsir Al-Mawardi (6 jilid), Adab al-Dunya wa al-Din, al-Ahkam al-Sulthoniyah, al-Iqna’ dan lain-lain. Beliau dilahirkan di kota Basrah Irak pada tahun 364 H/974 M, ketika kebudayaan Islam mencapai masa-masa keemasannya ditangan para Khalifah Daulah Abbasiyah. Pada tahun 429 H, beliau mendapat gelar Aqdlo al-Qudloh (derajat dibawah Qodli al-Qudloh), dan setelah itu mendapat gelar Qodli al-Qudloh (hakimnya para hakim). Beliau wafat pada hari Selasa, akhir Bulan Robi’ al-Awwal tahun 450 H, dan yang menjadi Imam sholat jenazah pada saat itu ialah al-Imam al-Hafidz al-Khotib al-Baghdadi (392 – 463 H). Semua Ulama’ berittifaq akan kehebatan beliau dalam Madzhab Syafi’i, walaupun disisi lain ada beberapa ulama yang mempersoalkan aqidah beliau sebagai Mu’tazilah.

Diantara ulama yang pertama kali mengungkap kecurigaan akan aqidah beliau adalah Al-Imam Abu ‘Amr Utsman al-Kurdi al-Syahruzuri, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Sholah (577 – 643 H), yang tidak lain termasuk juga salah satu Imam Madzhab Syafi’i. Beliau hidup sekitar 2 abad setelah al-Mawardi. Penilaian itu berdasar dari kitab tafsir beliau (al-Mawardi) yang berjudul Al-Nukat Wa Al-‘Uyun. Dimana dalam kitab tafsir itu, dicurigai mengandung bahkan bernuansa mendukung beberapa pemahaman ala Mu’tazilah. Walaupun demikian, Ibn Sholah tidak memfonis beliau sebagai Mu’tazili secara mutlak, karena Al-Mawardi tidak sejalan dengan ushul Mu’tazilah secara keseluruhan -misalnya dalam masalah kemakhlukan Al-Qur’an, kemakhlukan surga, dan lain-lain-, melainkan dalam beberapa masalah saja semisal permasalahan al-Qodar (Takdir) yang kemudian menjadi cobaan/ujian bagi penduduk Bashrah.

Setelah Ibn Sholah, datang beberapa ulama yang secara serampangan memvonis al-Mawardi sebagai pengikut Mu’tazilah, Semisal Yaqut al-Hamawi (574 – 626 H) yang pernah menulis: “Al-Mawardi termasuk ulama yang alim, unggul/mahir, menguasai seluk beluk Madzhab Syafi’i dalam furu’ dan bermadzhab Mu’tazilah dalam ushul”.

Ada juga ulama yang mengutip secara utuh analisis Ibn Sholah dengan tanpa menghakimi lebih jauh, seperti Syeikh Syamsuddin Muhammad Al-Dawudi (w. 945 H) dalam kitabnya Thobaqot Al-Mufassirin. Begitu juga dengan Imam al-Hafidz Syamsuddin Al-Dzahabi (673 – 748 H) yang mempunyai kecurigaan terhadap Imam Al-Mawardi seperti halnya dengan Ibn Sholah, walaupun tanpa merujuk ke Ibn Sholah secara langsung. Komentar al-Dzahabi ini bisa dilihat dalam karya beliau yang berjudul Tarikh Al-Islami

Sekilas Tentang Mu’tazilah

Perlu diketahui, paham Mu’tazilah pertama kali muncul pada masa akhir kekhalifahan Bani Umawiyah dan berkembang pesat pada masa Abbasiyah. Aliran ini lahir bermula dari tindakan Washil Ibn Atho’ (80 – 131 H). Dimana pada saat itu, datang seseorang yang bertanya kepada Hasan al-Bashri (21 – 110 H): “ Ya Imam al-Din, telah muncul di zaman kita ini sekelompok orang yang mengkafirkan para pelaku dosa besar, sedangkan di sisi lain ada juga kelompok yang masih mengaharapkan (ampunan) bagi pelaku dosa besar, mereka mengatakan ‘tidak akan bisa membahayakan iman suatu kemaksiatan, seperti halnya juga tidak akan memberi manfaat kepada kekafiran suatu ketaatan’, maka bagaimana engkau menghukumi untuk kami yakini dalam permasalahn itu?”

Imam Hasan al-Bashri pun diam sejenak untuk berfikir. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba Washil Ibn Atho’ memberikan jawaban: “Saya tidak menyebut para pelaku dosa besar sebagai mukmin mutlak maupun kafir mutlak, karena mereka masih mengakui dua kalimat syahadah, maka ketika mereka mati dengan tanpa taubat maka akan abadi di Neraka. Di Akhirat kelak tidak ada seorang pun kecuali termasuk salah satu dari dua kelompok; kelompok di Surga atau di Neraka. Hanya saja mereka akan diringankan siksanya dan posisinya masih diatas derajat orang kafir”.

Maka Hasan al-Bashri mengomentari jawaban Washil itu dengan berkata: “Ia telah i'tizal (mengasingkan diri) dari kita”. Sehingga muncul lah istilah “mu'tazilah” yang berarti kelompok yang mengasingkan diri.

Seseorang tidak bisa dianggap sebagai Mu’tazili jika belum sejalan dengan mereka dalam lima masalah pokok (usul al-khomsah); al-tauhid, al-‘adl, al-wa’d wa al-wa’id, al-manzilah baina al-manzilatain, dan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-munkar. Sehingga barang siapa yang tidak bersepakat dengan lima ushul tersebut secara keseluruhan, maka tidak bisa dianggap sebagai Mu’tazili menurut pendapat yang shohih. Hal ini telah dinash oleh Abu Al-Husain Abdurrohim Al-Khoyyath (w. 311 H), -salah satu imam Mu’tazilah abad ke 3- dalam kitabnya Al-Intishor.

Al-Tauhid merupakan intisari madzhab Mu’tazilah, yaitu berupa (1) kemustahilan melihat Alloh di Hari Kiamat kelak; (2) Sifat bukanlah sesuatu selain Dzat; dan (3) Al-Qur’an termasuk makhluk Alloh.

Al-‘Adl bearti Alloh tidak menghendaki segala sesuatu yang wujud –baik dalam penciptaannya maupun berkuasa atasnya-, melainkan menurut mereka ada beberapa perbuatan hamba yang tidak diciptakan oleh-Nya –berupa kebaikan maupun keburukan-. Dan Alloh tidak menghendaki kecuali sesuatu yang sesuai Syari’at, sehingga sesuatu selain dari itu bukan atas kehendak Alloh.

Al-Wa’d wa al-Wa’id merupakan keyakinan bahwa (1) Alloh akan membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikan dan sebaliknya membalas perbuatan buruk dengan keburukan; (2) Alloh tidak akan mengampuni orang yang telah berbuat dosa besar selagi tidak bertaubat; (3) mereka juga tidak akan mendapatkan syafa’at; sehingga (4) mereka tidak akan dikeluarkan dari Neraka alias abadi disana –walaupun mereka beriman kepada Alloh dan RosulNya-.

Al-Manzilah baina al-Manzilatain, yaitu posisi diantara dua posisi. Istilah ini muncul dalam perdebatan diantara Washil Ibn Atho’ dengan Hasan al-Bashri yang telah disebutkan sebelumnya. Yakni posisi bagi mukmin pelaku dosa besar yang dinilai bukan mukmin maupun kafir, tapi diantara keduanya.

Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar merupakan dasar bagi mereka dalam menghukumi para pelaku dosa besar. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam memahami dan mempraktekkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka memerangi para pemimpin yang dzolim hanya karena kefasikannya dan mewajibkan keluar dari daerah kekuasaanya jika mampu. Mereka menyelisihi mayoritas Ulama’ yang bersepakat bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar bisa dilaksanakan dengan hati, jika tidak mencukupi maka dengan lisan, dan jika masih belum cukup baru dengan tangan.

Kesimpulan Akhir

Setelah kita cermati, penilaian Ibn Sholah tentang kecocokan beberapa penafsiran al-Mawardi dengan faham Mu’tazilah, tidak serta merta menjadikan beliau sebagai seorang yang berakidah Mu’tazilah, melainkan beliau tidak lebih hanya menunjukkan perbedaan penafsiran dari kalangan Salaf maupun Kholaf -termasuk dari kalangan Mu’tazilah- dengan tanpa mentarjih diantara penafsiran yang ada. Maka, menjadi benar dan adil apa yang disampaikan oleh Imam Tajuddin al-Subki (w. 771 H) setelah mengutip komentar Ibn Sholah, beliau mengatakan: “dan yang benar (shohih) adalah beliau (Imam al-Mawardi) bukan termasuk Mu’tazilah, melainkan hanya berbicara tentang Al-Qodar”. Secara kebetulan pemahaman beliau tentang Al-Qodar sejalan dengan pemahaman Mu’tazilah. 

Imam Ibn Hajar al-Asqollani (w. 852 H) mengomentari pendapat al-Dzahabi yang menyebut beliau (al-Mawardi) sebagai “orang yang jujur (Shoduq) dalam dirinya, tetapi seorang Mu’tazili”, dengan mengatakan “tidak pantas diucapkan kepada beliau -Imam Al-Mawardi- sebutan Mu’tazilah”. Dan salah satu murid beliau sendiri, yakti Imam al-Khotib al-Baghdadi (392 – 463 H) menyebut beliau sebagai orang yang tsiqoh (dapat dipercaya). Begitu juga Ibn al-Jauzi (510 – 597 H) yang menilai beliau sebagai orang yang tsiqoh sekaligus sholih. Dengan demikian, jikalau beliau termasuk seorang Mu’tazilah, tentu ulama -ulama tadi menjelaskan akan hal itu, lebih-lebih Imam al-Khotib yang termasuk murid beliau sudah pasti lebih dekat dan lebih kenal akan jati diri beliau.


Bukti lain yang menunjukkan bahwasannya beliau bukan termasuk Mu’tazilah adalah kedekatan beliau dengan khalifah saat itu, yakni Abu al-Abbas Ahmad al-Muqtadir yang dijuluki Khalifah al-Qodir Billah (336 – 422 H). Khalifah al-Qodir termasuk seorang ulama’ dari kalangan Syafi’iyah. Beliau menulis suatu kitab tentang ushul yang berisi tentang keutamaan para shohabat, keutamaan khalifah Umar Ibn Abdul Aziz, serta kekafiran Mu’tazilah dan orang yang mengatakan kemakhlukan Al-Quran. Kitab tersebut setiap hari Jum’at dibaca di hadapan para ulama ahli hadist di Masjid Al-Mahdi yang dihadiri juga oleh khalayak umum. Setelah kita tahu pendapat Kholifah al-Qodir Billah tentang Mu’tazilah, maka sangat sulit diterima jika salah seorang yang dekat dengan beliau termasuk pengikut Mu’tazilah itu sendiri, yang notabene sangat berlawanan dengan akidah Sang Khalifah.

Lebih jauh lagi pada tahun 1037 M, Khalifah al-Qodir mengundang empat ahli fiqh yang mewakili keempat mazhab fikih yang ada (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Mereka diminta menulis sebuah kitab fikih. Tentunya al-Mawardi terpilih untuk menulis kitab fikih mazhab Syafi’i. Setelah selesai, ternyata hanya dua karya yang memenuhi permintaan sang khalifah, yakni al-Quduri dengan karyanya al-Mukhtashor, dan al-Mawardi dengan kitabnya al-Iqna’. Kitab al-Iqna’ ini merupakan ringkasan dari karya besar beliua, al-Hawi al-Kabir. Kemudian sang Khalifah memuji karya al-Mawardi sebagai yang terbaik, dan menyuruh para penulis kerajaan untuk menyalinnya, lalu menyebarluaskannya ke seluruh perpustakaan Islam di wilayah kekuasaannya.

Perihal tuduh menuduh, sudah seharusnya kita bersikap hati-hati dengan sangat. Apalagi jika berkaitan dengan akidah seseorang. Kisah ini memberi pelajaran kepada kita bahwa selevel ulama’ besar nan alim sekaligus 'allamah, begitu berhati-hati dalam memvonis akidah seseorang, apalagi kita sebagai orang awam yang tidak memiliki kapasitas sekecilpun. Jangan sekali-kali kita mengikuti langkah orang-orang bodoh yang terjemurus kedalam hawa nafsunya, yaitu mereka yang begitu mudahnya ikut-ikutan memvonis akidah orang lain, apalagi orang yang tertuduh itu termasuk dari kalangan para ulama’ dan para kiai, Na’udzu billah min dzalik. Akhirnya, seperti yang sering dinasihatkan oleh Guru kami KH. Hamdan Rofi’i, “Man sakata salima”, barangsiapa memilih diam (dari keburukan), maka akan selamat”. Wa Alloh a’lam bi al-showab.

Referensi
  • Al-Duktur Muhammad Husein al-Dzahabi (w. 1977 M), al-Tafsir wa al-Mufassirun (3/88 – 95), cet: Dar al-Hadits, Cairo
  • Al-Hafidz Syamsuddin al-Dzahabi (w. 748 H), Tarikh al-Islami wa wafayat al-Masyahir wa al-A’lam (30/182 – 184), cet: al-Maktabah al-Taufiqiyyah
  • Taqiyyuddun Ibn Sholah (w. 643 H), Thobaqot al-Fuqoha’ al-Syafi’iyyah (2/636 – 642), cet: Dar al-Basya’ir al-Islamiyah, Beirut
  • Tajuddin Abdul Wahhab al-Subki (w. 771 H), Thobaqot al-Syafi’iyyah al-Kubro (5/267 – 270), cet: Hajar lit-Thoba’ah
  • Al-Hafidz Ibn hajar al-Asqollani (w. 852 H), Lisan al-Mizan (4/260 – 261), cet: Mu’assasah al-A’lami, Beirut
  • Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), Tarikh al-Khulafa’ (294 – 298), cet: Maktabah Nizar Musthofa al-Baz





CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar