Hadits-Hadits Riwayat 3 Imam Besar: Imam Hanbali dari Imam Syafi'i dari Imam Maliki (Bag 2, Habis)


Hadits Keempat

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَلَقَّوْا السِّلَعَ "

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris al-Syafi’i, telah mengkhabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Abi al-Zinad dari al-A’raj dari Abi Hurairah, sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
“Janganlah sebagian kalian menjual diatas jualan sebagian yang lain, janganlah pula orang-orang kota menjual untuk orang desa dan janganlah kalian melebihkan harga tawaran barang (yang sedang ditawar orang lain), serta janganlah kalian menyongsong dagangan (mencegat kafilah dagang sebelum sampai di pasar).”
~ HR. Ahmad dalam Musnadnya (14/503, no. 8937 dan 12/263, no. 7312), Al-Syafi’i dalam Musnadnya (2/146 dan 2/147) dan al-Nasa’i (7/256). Secara terpotong-potong diriwayatkan pula oleh al-Bukhari (2140, 2150, 2160, 2162) dan Muslim (1413, 1414, 1523).

Shahabat Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma sebagaimana riwayat Bukhari-Muslim pernah ditanya tentang arti sabda Rasulullah "dan janganlah orang kota menjual untuk orang desa", maka beliau menjawab: "Janganlah seseorang jadi perantara (broker, calo) bagi orang desa.”

Imam al-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Muslim (5/309) menerangkan: Yang dikehendaki dari hadits “dan janganlah orang kota menjual untuk orang desa" ialah jika ada orang asing dari desa atau dari kota lain yang datang membawa barang dagangan yang dibutuhkan secara umum dengan tujuan menjualnya dengan harga saat ini. Lalu ada orang kota berkata kepadanya: “Tinggalkan saja barangmu itu di sisiku, biarkan aku yang menjualnya secara bertahap dengan harga lebih.”

Hadits Kelima

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ الْأَعْرَجِ، عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ: " مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيءٍ فَلْيَتْبَعْ "

Ahmad bin Hanbal berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris al-Syafi’i, mengabarkan kepada kami Malik bin Anas, dari Abi al-Zinad, dari al-A’raj, dari Abi Hurairah radiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti".

~ HR. Ahmad dalam al-Musnad (14/503, no. 8938), al-Bukhari (2287), Muslim (1564), Abu Dawud (3345), Nasa’i (7/317) dan yang lainnya.

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim (10/228) menyatakan: Madzhab kami dan madzhab mayoritas menyebutkan jika hutang dialihkan kepada orang kaya, maka disunnahkan untuk menerimanya. Dalam istilah fiqh disebut Hawalah.

Hadits Keenam

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ يَعْنِي الشَّافِعَيَّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، مَوْلَى أَبِي أَحْمَدَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: " أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ " " وَالْمُزَابَنَةُ: اشْتِرَاءُ الثَّمَرِ بِالتَّمْرِ فِي رُءُوسِ النَّخْلِ، وَالْمُحَاقَلَةُ: اسْتِكْرَاءُ الْأَرْضِ بِالْحِنْطَةِ "

Ahmad bin Hanbal berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris al-Syafi’i, beliau berkata: telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas, dari Dawud bin al-Hushain, dari Abi Sufyan -budak yang dimerdekakan Abi Ahmad, dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang al-Muzaabanah dan al-Muhaqalah. Al-Muzaabanah adalah membeli kurma masak dengan kurma basah yang masih berada di pohon. Adapun al-Muhaqalah adalah jual beli buah yang masih ditangkai dengan gandum".

HR. Ahmad di al-Musnad (17/104, no. 11052), al-Syafi’i dalam al-Umm (3/54), al-Bukhari (2186), Muslim (1546) dan yang lainnya.

Hadits Ketujuh

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ يَعْنِي الشَّافِعِيَّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ "

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris al-Syafi’i, dari Malik bin Anas, dari Ibn Syihab, dari Abdirrahman bin Ka’b bin Malik, sesungguhnya Ibn Syihab mengabarkan kepadanya bahwa bapaknya -Ka’b bin Malik- menceritakan bahwa sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: Sesungguhnya ruh seorang mukmin (yang mati syahid) bagaikan burung yang bergantungan di pohon Syurga, sampai Allah tabaraka wata’ala mengembalikan kepada jasadnya nanti di hari kebangkitan.”

~ HR. Ahmad dalam al-Musnad (25/57, no. 15778), Malik dalam al-Muwattha’ (240), al-Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir (5/305), Nasa’i (2074), Ibn Majah (4271) dan yang lainnya.
Imam al-Qurthubi mengatakan: Hadits ini dan semisalnya adalah diarahkan untuk para Syuhada’. Adapaun yang selainnya maka ada sebagian dari mereka yang di langit dan ada pula yang di halaman kuburan, tidak langsung di syurga (Syarh al-Suyuthi ala al-Nasa’i, 4/109). 
Hadits Kedelapan

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنِ أَبِي لَيْلَى  عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ، أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي حَثْمَةَ أَخْبَرَهُ، وَرِجَالٌ مِنْ كُبَرَاءِ قَوْمِهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِحُوَيِّصَةَ، وَمُحَيِّصَةَ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ: " أَتَحْلِفُونَ وَتَسْتَحِقُّونَ دَمَ صَاحِبِكُمْ؟ " قَالُوا: لَا، قَالَ: " فَتَحْلِفُ يَهُودُ؟ " قَالُوا: لَيْسُوا بِمُسْلِمِينَ، فَوَدَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عِنْدِهِ

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris al-Syafi’i, beliau berkata: telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas, dari Abi Laila Abdullah bin Abdirrahman bin Sahl bin Abi Hatsmah, sesungguhnya Sahl bin Abi Hatsmah dan beberapa orang dari petinggi kaumnya mengabarkan kepadanya, bahwa Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Huwayyishah, Muhayyishah dan Abdurrahman bin Sahal: Maukah kalian mengangkat sumpah sehingga kalian berhak atas diyat saudaramu? Mereka menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Kalau begitu orang-orang Yahudi akan mengangkat sumpah untukmu. Mereka berkata : Mereka bukan orang-orang Islam. Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam membayar sendiri diyat itu.

~ HR. Ahmad dalam Musnadnya (26/21, no. 16097), Syafi’i dalam Musnadnya (2/114 dan 2/112-113), al-Baihaqi (8/117) dan Malik dalam al-Muwattha’ (2/877). Hadits ini dikeluarkan pula oleh al-Bukhari (7192), Muslim (1669), Abu Dawud (4521), Ibn Majah (2677) dan yang lainnya.

Dalam Bulugh al-Maram (449, no. 1190) disebutkan versi yang lebih lengkap yang diriwayatkan oleh Bukhari (7192) dan Muslim (1669), bahwa:

Abdullah bin Sahal dan Muhayyishoh bin Mas'ud keluar menuju Khaibar karena kesulitan yang menimpa mereka. Datanglah seseorang kepada Muhayyishah dan mengabarkan bahwa Abdullah bin Sahal radliyallaahu 'anhu telah terbunuh dan dibuang di suatu mata air. Maka ia mendatangi orang-orang Yahudi dan berkata: Demi Allah, kalianlah yang membunuhnya. Mereka menjawab: Demi Allah kami tidak membunuhnya. Lalu ia dan saudaranya, Huwayyishoh dan Abdurrahman bin Sahal menghadap Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ketika Muhayyishah mulai akan berbicara, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Yang tua, yang tua." Maksudnya ialah yang tua umurnya (bicara dahulu). 

Maka Huwayyishah berbicara kemudian diikuti oleh Muhayyishah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Mereka harus membayar diyat untuk saudaramu atau mereka mengajak perang." Lalu beliau menulis surat kepada mereka (kaum Yahudi) dan mereka menulis surat jawaban: Demi Allah, kami tidak membunuhnya. Maka beliau bersabda kepada Huwayyishah, Muhayyishah dan Abdurrahman bin Sahal: "Maukah kalian mengangkat sumpah sehingga kalian berhak atas diyat saudaramu." Mereka menjawab: Tidak. Beliau bersabda: "Kalau begitu orang-orang Yahudi akan mengangkat sumpah untukmu." Mereka berkata: Mereka bukan orang-orang Islam. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membayar sendiri diyat itu dan beliau mengirimkan kepada mereka seratus ekor unta. (Muttafaqun alaih)

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Thuqbah, 11 Nov 2017 M/22 Safar 1439 H

Referensi
  1. Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, karya Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal al-Syaibani (w. 241 H), Syu’aib al-Arna’uth dkk (Ed.), Mu’assasah al-Risalah Beirut, 1421 H
  2. Al-Fanid fi Halawah al-Asanid, Imam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi (w. 911 H), Ramzi Sa’duddin Damsyiqiyah (Ed.), Dar al-Basya’ir al-Islamiyah, Beirut Lebanon, 1420 H
  3. Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, Al-Hafidz Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani al-Syafi’i (w. 852 H), Muhibbuddin al-Khathib (Ed.), Dar al-Ma’rifah Beirut, 1379 H
  4. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, Imam Abu Zakaria Muhyiddin Yahya al-Nawawi (w. 676 H), Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi Beirut, 1392 H
  5. Sunan al-Nasa’i ma’a Syarh al-Suyuthi wa Hasyiah al-Sindi, al-Hafidz Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi (w. 911 H), Maktabah al-Mathbu’at al-Islamiah Halb, Syiria, 1406 H
  6. Tarikh Damsyiq, karya Imam Abul Qasim Ali ibn al-Hasan = Ibn Asakir (w. 571 H), Amr ibn Ghuramah al-Umrawi (Ed.), Dar al-Fikr li al-Thiba’ah wa al-Tauzi’, 1415 H
  7. Manakib al-Syafi’i, Abu Bakr Ahmad bin Husein al-Baihaqi (w. 458 H), Sayyid Ahmad Shaqr (Ed.), Maktabah Dar al-Turats, Kairo, 1390 H
  8. Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam, al-Hafidz Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Dr. Mahir Yasin al-Fahl (Ed.), Dar al-Qabas Riyadh, 1435 H
  9. Ibn Hanbal: Hayatuhu wa ‘Ashruhu – Ara’uhu wa Fiqhuhu, al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Dar al-Fikr al-Arabi, Kairo
  10. Al-Syafi’i: Hayatuhu wa ‘Ashruhu – Ara’uhu wa Fiqhuhu, al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Dar al-Fikr al-Arabi, Kairo, 1367 H
:: Kembali ke BAGIAN-1 ::

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar