Sombong Kepada Orang yang Sombong termasuk Sedekah? (Bag 1)


Sombong, ujub atau congkak termasuk penyakit hati yang sangat berbayaha. Tak mengherankan jika Imam Ibn Hajar al-Haitami memasukkannya ke dalam kategori dosa besar batiniah yang ke-empat setelah syirik akbar, syirik ashghar dan dengki/iri hati (al-Zawajir an Iqtiraf al-Kaba’ir, 1/109-123). Beliau memuat banyak sekali ayat maupun hadits yang menerangkan begitu hinanya dan bahayanya penyakit ini. Satu diantaranya adalah hadits shahih yang sangat terkenal bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ»
"Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi
~ HR. Ahmad dalam Musnadnya (2/164, 6526), Hannad (2/425, 831), Ibn Abi Syaibah (5/329, 26571), al-Hakim (3/470, 5757), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (6/291, 8199), al-Thabarani (11/435, 12235), dan Ibn Adi (3/72).

Akan tetapi, muncul di kalangan kita ungkapan yang juga sangat terkenal yang isinya melegalkan sikap sombong untuk melawan kesombongan yang lain, yakni

التَّكَبُّرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ صَدَقَةٌ

Bersikap sombong kepada orang yang sombong termasuk sedekah

Atau dalam redaksi yang lain memakai kata “kebaikan”, “ibadah” dan “tawaduk” sebagai ganti “sedekah”. Sehingga muncul beberapa pertanyaan menyangkut ungkapan tersebut, diantaranya ialah apakah ungkapan itu berasal dari Nabi? Dan apakah boleh mengamalkan sebagaimana isi ungkapan itu?. Dalam artikel ringkas ini, kami akan mencoba mengupas partanyaan-pertanyaan itu berdasarkan pandangan dari para ulama yang muktabar.

Apakah Ungkapan Tersebut Termasuk Hadits?

Syeikh Isma’il al-Ajluni (w. 1162 H) dalam Kasyf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas (1/360) menyatakan bahwa ungkapan tersebut bukanlah sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melainkan sebuah perkataan (kata mutiara) yang masyhur. Senada dengan itu, Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) dalam al-Tafsir al-Kabir (15/366) juga menyebutnya sebagai al-kalam al-masyhur (ungkapan yang terkenal di dikalangan masyarakat). Lantas, siapa sebenarnya yang pertama kali mengatakan ungkapan tersebut?

Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya’-nya (3/343) menyebutkan bahwa Yahya ibn Mu’adz al-Razi (w. 258 H) pernah berkata,

قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: التَّكَبُّرُ عَلَى ذي التَكَبّر عَلَيْك بِمَالِهِ تَوَاضُعٌ

Sombong kepada orang yang sombong kepadamu dengan hartanya adalah termasuk sikap rendah hati”. 

Syeikh Abu Manshur al-Tsa’alibi (w. 429 H) dalam al-Tamtsil wa al-Muhadlarah (410) disusul Syeikh Abu Ishaq al-Hushri (w. 453 H) dalam Zahr al-Adab wa Tsamar al-Albab (4/1054) juga menyebutkan salah satu ucapan dari Yahya ibn Mu’adz yang mirip ungkapan sebelumnya, hanya saja dengan redaksi yang lebih ringkas, yakni

التكبّر على المتكبر تواضع

Sombong kepada orang yang sombong adalah tawaduk”.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kalam tersebut pernah juga diungkapkan oleh Imam Bisyr al-Hafi (w. 227 H) yang hidup lebih dahulu daripada Yahya ibn Mu'adz (w. 258 H). Dalam Thabaqat al-Auliya’ karya Imam Ibn al-Mulaqqin al-Syafi’i (w. 804 H) saat menerangkan biografi Imam Bisyr al-Hafi (w. 227 H) -sang sufi besar sekaligus syeikh al-Islam-, beliau menyebutkan diantara kalam-kalam hikmah beliau adalah,

قال: التكبر على المتكبر من التواضع
“Bisyr al-Hafi pernah berkata: Sombong kepada orang yang sombong termasuk tawaduk”.
Perkataan beliau ini dicatat pula oleh Syeikh Syihabuddin Abu al-Fath al-Ibsyihi (w. 852 H) dalam al-Mustathraf fi Kulli Fannin Mustadzraf (154). Dengan kata lain, Imam Bisyr al-Hafi (w. 227 H) lalu Imam Yahya ibn Mu’adz al-Razi (w. 258 H) adalah orang yang pertama kali mengungkapkan perkataan itu, hanya saja memakai redaksi "tawaduk" bukan "sedekah". Setelah itu muncul Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) yang mulai mempopulerkan istilah "التَّكَبُّرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ صَدَقَةٌ" (Sombong kepada orang sombong termasuk sedekah) sebagaimana pernah dikutip oleh al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) (Kasyf al-Khafa', 1/360; al-Tafsir al-Kabir, 15/366).

Kemudian kami temukan dalam Ihya’ Ulum al-Din (3/341) karya Imam al-Ghazali (w. 505 H) sebuah hadits yang memiliki kandungan yang mirip ungkapan tadi, yaitu:

قال صلى الله عليه وسلم : «إذَا رَأَيْتُمْ الْمُتَوَاضِعِينَ مِنْ أُمَّتِي فَتَوَاضَعُوا لَهُمْ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ الْمُتَكَبِّرِينَ فَتَكَبَّرُوا عَلَيْهِمْ فَإِنَّ ذَلِكَ لَهُمْ مَذَلَّةٌ وَصَغَارٌ»

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang rendah hati dari umatku, maka berendah hatilah kepada mereka. Sedangkan jika kalian melihat orang-orang ynag sombong, maka sombongilah mereka karena hal itu termasuk cara untuk merendahkan mereka”.

Hanya saja al-Hafidz al-Iraqi (w. 806 H) mengomentari hadits tersebut sebagai hadits gharib. Penilaian al-Iraqi ini menunjukkan bahwa beliau tidak menemukan sanadnya. Begitu pula Imam al-Subki (w. 756 H) dalam Thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra (6/354) memasukkan hadits tersebut kedalam bab “Hadits-hadits dalam kitab al-Ihya’ yang tidak saya temukan sanadnya”. Hadits tersebut juga dinilai gharib oleh Muhammad Thahir al-Fattani (w. 986 H) dalam Tadzkirah al-Maudlu’at (191).

Bersambung ke BAGIAN-2.

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar