Penambahan doa “Rabbighfirli” Ketika Selasai al-Fatihah dan Sebelum “Amin”


Saya kira banyak diantara kita yang pernah mendengar—walaupun tidak sering—seorang qari’ ketika selesai membaca surah Al-Fatihah tidak langsung mengucapkan “Amin”, melainkan terlebih dahulu membaca doa “Rabb ighfirli wa liwalidayya wa lijami’i al-muslimin” (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ) lalu disambung “Amin”. Bahkan ada pula yang setelah “Amin” masih menambah “Rabb al-Alamin”. Lalu bagaimana pandangan para ulama menyikapi ‘penambahan’ ini.

Kalau kita membaca secara teliti kitab-kitab hadis yang ada, maka kita akan temukan suatu riwayat dari Wa’il ibn Hujr, bahwa

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ «أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حِينَ قَالَ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ».
“Beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  tatkala membaca ‘Ghair al-maghdlub alaihim wa la adl-dlallin’ (QS. Al-Fatihah: 7), beliau membaca ‘Rabb ighfirli Amin’.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abul Qasim ath-Thabarani (w. 360 H) dalam al-Mu’jam al-Kabir (22/42, no. 107) dan Imam Abu Bakr Ahmad al-Baihaqi (w. 458 H) dalam as-Sunan al-Kabir (3/446, no. 2488). Ath-Thabarani berkata dalam sanadnya, telah meriwayatkan kepada kami al-Qasim ibn ‘Abbad al-Khaththabi, telah meriwayatkan kepada kami Ahmad ibn Abdul Jabbar al-‘Utharidi, telah meriwayatkan kepadaku Bapakku, dari Abi Bakr an-Nahsyali, dari Abi Ishaq, dari Abi Abdillah al-Yahshubi, dari Wa’il ibn Hujr. Sedangkan Al-Baihaqi meriwayatkan hadis ini melalui Abul Husein ibn Bisyran, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ja’far ar-Razzaz, telah meriwayatkan kepada kami Ahmad ibn Abdul Jabbar al-‘Utharidi dan seterusnya sebagaimana riwayat ath-Thabarani.

Mengomentari hadis ini, al-Hafidz Syamsuddin adz-Dzahabi (w. 748 H) dalam al-Muhadzdzab—ringkasan as-Sunan al-Kabir karya al-Baihaqi—menyatakan:

هذ حديث منكر، والعطاردي وأبوه تُكُلِّم فيهما، واليحصبي فيه جهالة.

“Hadis ini termasuk hadis munkar. Al-‘Utharidi dan bapaknya tak lepas dari pembicaraan, sedangkan al-Yahshubi terdapat ketidakjelasan.” (al-Muhadzdzab, 1/508)

Penilaian keras al-Hafidz adz-Dzahabi ini ternyata menyelisihi pendapat Imam-imam yang lain. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami (w. 807 H) misalnya pernah menuturkan:

وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَأَثْنَى عَلَيْهِ أَبُو كُرَيْبٍ وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ وَقَالَ ابْنِ عَدِيٍّ: لَمْ أَرَ لَهُ حَدِيثًا مُنْكَرًا

“Dalam sanadnya terdapat Ahmad ibn Abdil Jabbar al-‘Utharidi, yang dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh ad-Daruquthni dan dipuji oleh Abu Kuraib. Walaupun beberapa ulama menilainya dhaif (lemah). Ibn Adi berkata: saya tidak melihat adanya hadis munkar darinya.” (Majma’ Zawa’id, 2/113)

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) juga menilai al-‘Utharidi sebagai rawi yang lemah (Taqrib at-Tahdzib, 81). Namun demikian, beliau menentang jika dia dianggap memalsukan hadis. Beliau mengatakan:

وأما قول المطين: "أنه كان يكذب", فقول مجمل إن أراد به وضع الحديث فذلك معدوم في حديث العطاردي

“Ucapan Imam al-Muthayyan bahwa ‘al-Utharidi terkadang berbohong’ merupakan perkataan yang tidak terperinci jika yang dimaksud adalah memalsukan hadis. Karena perbuatan seperti itu tidak ada sama sekali dalam hadis al-Utharidi” (Tahdzib at-Tahdzib, 1/52)

Oleh karenanya, Syeikh al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) bahkan berani menilai sanad hadis tersebut sebagai “la ba’sa bih” alias tidak bermasalah. Beliau berkata:

وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ بِسَنَدٍ لَا بَأْسَ بِهِ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا قَالَ: " {وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] " قَالَ: " «رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ» "
“Ath-Thabarani meriwayatkan hadis dengan sanad yang tidak bermasalah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika membaca ‘wa la adl-dlallin’, beliau mengucapka doa ‘Rabb ighfirli Amin’.” (Mirqah al-Mafatih, 2/686)
Penilaian bahwa hadis tersebut munkar juga tidak banyak diikuti oleh para pakar hadis kontemporer. Sebut saja misalnya Syeikh Syu’aib al-Arna’uth, Syeikh Adil Mursyid dan yang lainnya dalam tahkik Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal (31/137) menuturkan bahwa sanad hadis dari Wa’il ibn Hujr tadi adalah dha’if. Kalaupun hadis tersebut dinilai dhaif sekalipun, tetap masih berlaku karena tidak mengandung perihal halal atau haram, melainkan hanya sebatas fadha’il a’mal atau targhib wa tarhib

Dalam pandangan ulama fikih (Fuqaha’), sebut saja misalnya Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H)—ulama ahli fikih kenamaan dalam Madzhab Syafi’i—berani menilai hasan atas hadis tersebut. Sehingga beliau berani juga menyatakan bahwa doa tambahan tersebut tidak akan menghilangkan keutamaan membaca ‘Amin’ bersamaan dengan aminnya imam. Beliau menjelaskan,

(تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ عَقِبَ الضَّالِّينَ رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ» 

“[Perhatian] Ucapan penulis ‘setelah (Al-Fatihah)’ memberi pengertian akan terlewatnya kesunahan membaca ‘Amin’ karena terlanjur mengucapkan selainnya, walaupun karena lupa—sebagaimana penjelasan dalam al-Majmu’ mengutip dari para Ashhab, dan walaupun sebentar. Akan tetapi, seyogyanya hal ini mengecualikan bacaan ‘Rabb ighfir li’ karena adanya hadis Hasan: bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah ‘adl-dlallin’ mengucapkan ‘Rabb ighfir li Amin’. ” (Thufah al-Muhtaj, 2/50)

Fatwa Imam Ibn Hajar al-Haitami ini selanjutnya dikutip dan diikuti oleh para ulama fikih setelah beliau, misalnya dalam Hasyiah asy-Syabramallisi ala Nihayah (1/489), Hasyiah al-Jamal ala Manhaj (1/354), Hasyiah al-Bujairami ala al-Khatib (2/29), Hasyiah al-Bujairami ala Syarh al-Manhaj (1/199), Busyra al-Karim (220) dan yang lainnya.

Lalu persoalan selanjutnya ialah mengingat dari riwayat hadis yang ada hanya disebutkan akan penambahan doa’ “Rabb ighfir li” sebelum “Amin”. Lalu bagaimana dengan penambahan do’a yang lebih panjang yang sering kita dengar, yakni “Rabb ighfirli wa liwalidayya wa lijami’i al-muslimina”?

Syeikh al-Faqih Abu adh-Dhiya’ Nuruddin Ali asy-Syabramallisi (atau Syubramilisi, w. 1087 H) dalam Hasyiah beliau atas Nihayah al-Muhtaj sudah menguraikan persoalan itu. Beliau menuturkan,

وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرَّ

“Dan seyogyanya jikalau dia menambahkan ‘wa liwalidayya wa lijami’i al-muslimina’ atas doa ‘Rabb ighfir li’ maka tidak apa-apa.” (Hasyiah asy-Syabramallisi ala Nihayah, 1/489; Hasyiah al-Jamal ala Manhaj, 1/354; Hasyiah al-Bujairami ala Syarh al-Manhaj, 1/199)

Imam besar kita, al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w. 204) dalam magnum opusnya al-Umm menambahkan:

وَلَوْ قَالَ مَعَ آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ كَانَ حَسَنًا لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى
“Seandainya dia mengucapkan bersama ‘Amin’ bacaan ‘Rabb al-Alamin’ atau dzikir yang lain, maka itu baik dan tidak akan membatalkan shalat sesuatu dari dzikr Allah ta’ala.” (al-Umm, 1/131)
Perkataan Imam asy-Syafi’i ini dikutip pula oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam dua karya besarnya, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (3/373) dan Raudlah ath-Thalibin (1/247). 

Perlu dicatat bahwa perincian detail yang kami sampaikan disini—terkait pandangan ulama fikih atas penambahan doa “Rabb ighfir li” dan seterusnya—hanya ditemukan dalam literatur fikih syafi’i, tidak dalam madzhab lain. Dalam madzhab Hanbali pun—yang notabene madzhab yang lahir paling terakhir—hanya menyinggung akan kesunahan untuk berhenti sejenak sebelum mengucapkan “Amin” setelah “Wa la adl-dlallin”, sebagaimana sudah lumrah dalam kitab-kitab Syafi’iyah. Oleh karenanya, dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (1/114) dinyatakan,

وَلَمْ أَرَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ مَنْ تَعَرَّضَ لِهَذِهِ النُّقْطَةِ، فِيمَا وَقَفْتُ عَلَيْهِ

“Dan saya tidak melihat dari kalangan Hanafiah maupun Malikiah ada ulama yang menjelaskan persoalan ini, sejauh yang saya ketahui”

Wa Allahu a’lam.

REFERENSI

  • Adz-Dzahabi, Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman (w. 748 H). Al-Muhadzdzab fi Ikhtishar as-Sunan al-Kabir (Ed. Abu Tamim Yasir Ibrahim dkk). Dar al-Wathan li an-Nasyr, I/1422 H
  • Al-Asqalani, Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Hajar asy-Syafi’i (w. 852 H). Tahdzib at-Tahdzib. Da’irah al-Ma’arif an-Nidzamiyah, India, I/1326 H
  • Al-Asqalani, Abu Fadll Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Hajar asy-Syafi’i (w. 852 H). Taqrib at-Tahdzib (Ed. Muhammad Awamah). Dar ar-Rasyid, Syiria, I/ 1406 H
  • Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad ibn al-Husein ibn Ali (w. 458 H). As-Sunan al-Kabir (Ed. Dr. Abdullah Abdul Muhsin at-Turki). Markaz Hijr li al-Buhuts wa ad-Dirasat al-Arabiyah al-Islamiyah, I/1432 H
  • Al-Bujairami, Sulaiman ibn Muhammad ibn Umar al-Mishri asy-Syafi’i (w. 1221 H). Tuhfah al-Habib ala Syarh al-Khatib/Hasyiah al-Bujairami ala al-Khatib. Dar al-Fikr, 1415 H
  • Al-Bujairami, Sulaiman ibn Muhammad ibn Umar al-Mishri asy-Syafi’i (w. 1221 H). At-Tajrid li naf’i al-Abid/Hasyiah al-Bujairami ala Syarh al-Manhaj. Mathba’ah al-Halabi, 1369 H
  • Al-Haitsami, Abul Hasan Nuruddin Ali ibn Abi Bakr ibn Sulaiman (w. 807 H). Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawa’id (Ed. Hussamussin al-Qudsi). Maktabah al-Qudsi, Kairo, 1414 H
  • Al-Jamal, Sulaiman ibn Umar ibn Manshur al-Azhari al-Ujaili (w. 1204). Futuhat al-Wahhab bi Taudlih Syarh Manhaj ath-Thullab. Dar al-Fikr, Beirut
  • Al-Kuwait, Wizarah al-Auqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyah. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. Dar as-Salasil, Kuwait, 1404 H
  • Al-Qari, Nuruddin al-Mulla Ali ibn Sulthan Muhammad al-Harawi (w. 1014 H). Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih. Dar al-Fikr, Beirut, I/1422 H
  • An-Nawawi, Abu Zakaria Muhyiddin Yahya ibn Syaraf (w. 676 H). Al-Majmu’ Syarh al-Muhdzdzab (ma’a tamilah as-Subki wa al-Muthi’i). Dar al-Fikr
  • An-Nawawi, Abu Zakaria Muhyiddin Yahya ibn Syaraf (w. 676 H). Raudlah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin (Ed. Zuhair asy-Syawisy). Al-Maktab al-Islami, Beirut, III/1412 H
  • Asy-Syabramallisi, Abu adl-Dliya’ Nuruddin Ali al-Aqhari (w. 1087 H). Hasyiah ala Nihayah al-Muhtaj. Dar al-Fikr, Beirut
  • Asy-Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas al-Muththalibi (w. 204 H). Al-Umm. Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1410 H
  • Asy-Syaibani, Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (w. 241 H). Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal (Ed. Syu’aib al-Arna’uth dkk). Mu’assasah ar-Risalah, I/1421 H
  • Ath-Thabarani, Abul Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Lahmi asy-Syami (w. 360 H). Al-Mu’jam al-Kabir (Ed. Hamdi Abdul Majid as-Salafi). Maktabah Ibn Taimiyah, Kairo, II/tt


CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar