Mengenal Lebih Dekat Sang Penulis “Fathul Mu’in” (Bag 2/2)


Perjalanan Ilmiah Beliau

Syekh Zainuddin II—sang penulis Fath al-Mu’in, sangat beruntung bisa tumbuh berkembang dalam keluarga dan lingkungan yang penuh dengan ilmu, kesalihan dan keutamaan. Pada mulanya beliau belajar ilmu-ilmu dasar kepada kedua orang tuanya, lalu bergabung di Madrasah yang didirikan oleh sang kakek di Ponnani yang pada saat itu diasuh oleh pamannya sendiri, Syekh Abdul Aziz. Selama di Madrasah ini, beliau mampu menghafal Al-Qur’an dan beberapa kitab matan.

Supaya bisa mengeyam pendidikan yang lebih tinggi, sebagaimana yang dilalui sang kakek tempo dulu, beliau melakukan perjalanan ke tanah suci, Mekah al-Mukarramah. Selama sekitar 10 tahun lamanya, beliau belajar kepada ulama-ulama besar disana. Diantaranya ialah al-Allamah al-Kabir al-Faqih asy-Syahir al-Imam Syihabuddin Ahmad ibn Hajar al-Haitami al-Makki (w. 974 H), Syaikh al-Islam Izzuddin Abdul Aziz az-Zamzami asy-Syafi’i (w. 976 H), Mufti al-Hijaz wa al-Yaman Abu Nashr Wajihuddin Abdurrahman ibn Ziyad asy-Syafi’i (w. 975 H) dan yang lainnya. Tidak hanya mendalami ilmu Syariat, beliau juga pemerhati ilmu thariqah secara serius. Beliau memperoleh talqin zikir al-jali dan al-khafi dari gurunya, Syekh al-Imam al-Arif al-Kabir Abu al-Makarim Muhammad ibn Abu al-Hasan ash-Shiddiqi al-Bakri (w. 994 H). Beliau juga mengambil Thariqah al-Qadiriyah dari sang Syekh pada Hari Jumat menjelang fajar, 10 Ramadhan tahun 966 H/1587 M di Mekah al-Mukarramah.

Selama di Mekah pula, beliau sangat aktif berdialog dan bertanya kepada para guru-gurunya itu yang pada masa itu sangat terkenal akan kealiman mereka. Hingga pada akhirnya beliau mampu mengumpulkan jawaban-jawaban yang beliau terima ke dalam satu kitab berjudul “al-Ajwibah al-Ajibah an al-As’ilah al-Gharibah”. Dalam kitab tersebut, beliau mengumpulkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh sedikitnya sembilan imam besar, yaitu (1) Imam Ibn Hajar al-Haitami, (2) Imam Ibn Ziyad, (3) Imam Abdullah Ba Makhramah, (4) Imam Abdul Aziz az-Zamzami, (5) Imam Muhammad ar-Ramli, (6) Imam al-Khathib asy-Syirbini, (7) Syekh Abdurra’uf al-Makki, (8) Syekh Abdul Aziz al-Ma’bari, dan (9) Imam Muhammad al-Bakri. Kesemuanya merupakan guru dari Syekh Zainuddin II, sang penulis Fath al-Mu'in.

Beliau, Syekh Zainuddin II, juga memiliki hubungan yang spesial dengan guru-gurunya itu, khususnya dengan al-Imam Ibn Hajar al-Haitami. Dalam karya monumental beliau—Fath al-Mu’in, ditemukan secara berulang-ualang penyebutan kata “Syaikhuna” yang bearti “Guru Kami”, maka yang dimaksud tak lain adalah guru beliau, Imam Ibn Hajar al-Haitami. Bahkan berdasarkan cerita yang masyhur dari para Masyayikh Malibar, disebutkan bahwa Imam Ibn Hajar al-Haitami pernah mengunjungi muridnya itu di kediaman beliau di Ponnani India, selama beberapa bulan lamanya. Selama disana, sang Imam ikut mengajar di Masjid Jami’ Ponnani dan sempat pula mengarang sebagian kitab Fatawinya. Sudah menjadi tradisi yang populer disana, ketika para santri senior selesai merampungkan masa studinya, maka sebelum boyong mereka terlebih dahulu duduk mengitari tempat petilasan Imam Ibn Hajar al-Haitami yang berada di dalam Masjid Ponnani dengan maksud mencari berkah (tabarruk) sekaligus “memberitahu” akan kelulusan mereka.

Murid dan Karya-Karya Beliau

Sepulang dari pengembaraan ilmiah yang cukup lama itu, beliau lalu mulai berkhidmah demi Agama di daerah asalnya, Malibar. Beliau mengajar berbagai macam cabang ilmu agama—seperti fikih (khususnya fikih Syafi’i), tafsir, hadis, ilmu kalam dan sebagaimana—di Masjid Jami’ Ponnani (masjid peninggalan sang kakek) selama kurang lebih 36 tahun. Beliau mampu mengkader ribuan santri yang di kemudian hari berhasil menjadi ulama atau pemuka agama di berbagai daerah, sebut saja misalnya Syekh al-Allamah Abdurrahman ibn Utsman al-Makhdum al-Funnani, al-Qadhi Jamaluddin ibn Utsman al-Ma’bari, Syekh Jamaluddin ibn Syekh Abdul Aziz al-Makhdum, al-Allamah al-Qadhi Utsman Labba al-Qahiri (dari Qahir Fatan), al-Allamah al-Qadhi Sulaiman al-Qahiri, dan masih banyak lagi. Hal ini meningkatkan reputasi Masjid Jami’ Ponnani sehingga semakin menjulang tinggi dan terkenal dimana-mana.

Di tengah-tengah kesibukan mengajar yang cukup padat itu, beliau masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya berbahasa Arab. Kita tahu, karya-karya beliau mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki keistimewaan dan keikhlasan yang murni dalam menulis dan menyebarkan ilmu Agama yang mulia ini.  Diantara karya-karya beliau tersebut ialah:

1. Qurrah al-Ain bi Muhimmat ad-Din (قرة العين بمهمات الدين), kitab matn dalam fikih syafi’i yang terkenal. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menulis syarh (annotation) atas kitab ini dalam satu jilid besar berjudul Nihayah az-Zain Syarh Qurrah al-Ain.

2. Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Ain (فتح المعين بشرح قرة العين), yang tak lain adalah syarh  dari kitab matn sebelumnya, yakni Qurrah al-Ain. Kitab ini memiliki kedudukan yang tinggi diantara kitab-kitab fikih syafi’i yang lain. Kitab ini senantiasa diajarkan secara luas di banyak negara seperti Mesir, Hijaz, Syam, Iraq, Indonesia, Malaysia, Sri Langka dan yang lainnya. Tak mengherankan jika banyak diantara ulama yang menulis hasyiah (catatan pinggir) atas kitab  penting ini, misalnya I’anah al-Musta’in karya al-Faqih Ali ibn Ahmad Ba Shibrin (w. 1304 H), Tarsyih al-Mustafidin karya as-Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqqaf (w. 1335 H), I’anah ath-Thalibin karya al-Allamah as-Sayyid Abu Bakr ibn Syatha’ ad-Dimyathi (w. 1310 H), Hasyiah Syekh Ahmad asy-Syairazi al-Malibari (w. 1326 H), Hasyiah Syekh Syihabuddin Ahmad Kuya asy-Syaliyati al-Malibari (w. 1374 H), Hasyiah Syekh al-Allamah Zainuddin al-Makhdum al-Akhir (w. 1305), dan yang lainnya.

3. Tuhfah al-Mujahidin fi Ba’dl Akhbar al-Burtughaliyin (تحفة المجاهدين في بعض أخبار البرتغاليين), merupakan buku sejarah penting dan menjadi sumber otoritatif dalam menjelaskan komunitas muslim di Malibar dan perjuangan meraka dalam melawan penjajahan Portugis pada abad ke-16 Masehi. Buku ini mendapat respon yang baik dan pengakuan yang istimewa di berbagai negara baik barat maupun timur, sehingga karya penting ini telah dicetak berulang kali dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, diantaranya ke bahasa Portugis oleh David Lopes (1898) dengan judul “História dos Portugueses no Malabar” dan ke bahasa Inggris dengan judul “Tuhfat al-Mujāhidīn: A Historical Epic of the Sixteenth Century” oleh S. Muhammad  Husayn Nainar (1942). 

4. Irsyad al-Ibad ila Sabil ar-Rasyad (إرشاد العباد إلى سبيل الرشاد), merupakan ringkasan dari dua kitab, yaitu az-Zawajir an Iqtiraf al-Kaba’ir karya guru beliau, Imam Ibn Hajar al-Haitami, dan Mursyid ath-Thullab karya kakek beliau, Syekh Zainuddin al-Makhdum al-Kabir. Kitab ini sudah dicetak beberapa kali dan yang terbaru oleh Dar al-Minhaj Jeddah pada tahun 2018, setebal 704 halaman.

5. Ihkam Ahkam an-Nikah (احكام احكام النكاح), dicetak pada tahun 1312 H di Kerala, India.

6. Al-Manhaj al-Wadlih Syarh Ahkam an-Nikah (المنهج الواضح شرح أحكام النكاح), masih berupa manuskrip yang salah satunya tersimpan di perpustakaan King Saud University (KSU), Arab Saudi.

7. Al-Ajwibah al-Ajibah an al-As’ilah al-Gharibah (الاجوبة العجيبة عن الاسئلة الغريبة), berisi kumpulan fatwa dan jawaban atas pertanyaan beliau yang disampaikan kepada para gurunya. Kitab ini telah selesai ditahkik oleh Dr. Abdunnashir Ahmad al-Malibari dan dicetak oleh Dar adl-Dliya’ Kuwait pada tahun 2012 setebal 267 halaman.

8. Al-Jawahir fi Uqubah Ahl al-Kaba’ir (الجواهر في عقوبة اهل الكبائر). Kitab ini merupakan buah karya beliau, sedangkan klaim az-Zirikli dalam al-A’lam (3/64) yang menyebut sebagai bagian dari karya kakek beliau, yakni Syekh Zainuddin al-Kabir, maka itu keliru.

9. Mukhtashar (ringkasan) atas Syarh ash-Shudur fi Ahwal al-Mauta wa al-Qubur karya Imam as-Suyuthi.

10. Al-Fatawa al-Hindiyah.

Beliau menikah dengan seorang wanita dari keluarga besar Alu Makhdum dan dikaruniai empat anak; Muhammad, Abdul Aziz, Abu Bakr dan Fathimah.

Menghadap Sang Ilahi Rabbi

Setelah menjalani kehidupan yang dipenuhi akan kemuliaan, mulai dari perjalanan menuntut ilmu, lalu mengajar, menulis dan berdakwah, mau tidak mau beliau harus memenuhi “panggilan” dari Sang Pemberi kehidupan. Terdapat perselisihan dan kesimpang-siuran terkait tahun wafatnya Syekh Zainuddin II—sang penulis Fath al-Mu’in ini. Karenanya, Syekh asy-Syaliyati dalam Asma’ al-Mu’allifin fi Diyar Malibar menyimpulkan bahwa tahun kewafatannya tidak dicatat dengan baik. Sebagian penulis—seperti George Zaydan dalam Tarikh Adab al-Lughah al-Arabiyah (3/337), diikuti pula oleh Brockelmann dalam Tarikh al-Adab al-Arabi (9/235) dan az-Zirikli dalam al-A’lam (3/64)—menyebutkan bahwa beliau wafat pada tahun 987 H atau 1579 M. Sebagain peneliti yang lain, seperti Dr. An-Nimr al-Mishri sebagaimana dikutip oleh Prof. Muhammad Abdul Karim dalam kata pengantar Tuhfah al-Mujahidin (11), dan Syekh Syamsullah al-Qadiri seperti dikutip Syekh Muhammad Ali Musliyar dalam Tuhfah al-Akhyar fi Tarikh Ulama Malibar, menyampaikan suatu pendapat yang menyebut beliau wafat pada tahun 991 H/1583 M.

Kalau kita merujuk salah satu karya beliau, Tuhfah al-Mujahidin, maka kita temukan Syekh Zainuddin II telah menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 991 H di akhir kitab tersebut. Sehingga kita bisa menyimpulkan jika pendapat pertama—dari George Zaydan dan kedua penulis lainnya—adalah suatu kekeliruan. Boleh jadi pendapat kedua mucul berdasarkan akhir kejadian yang ditulis oleh sang Syekh dalam Tuhfah al-Mujahidin, yaitu tahun 991 H.

Menurut pendapat yang kredibel sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah India, Syekh Muhammad Ali Musliyar dalam Tuhfah al-Akhyar fi Tarikh Ulama Malibar (11) dan dikutip oleh Dr. Abdunnashir Ahmad al-Malibari dalam Tarajim Ulama asy-Syafi’iyah fi ad-Diyar al-Hindiyah (93) adalah bahwa beliau wafat pada tahun 1028 H pada usia sekitar 90 tahun. Pendapat ini lebih dipilih karena Syekh Musliyar mempunyai hubungan dengan keluarga al-Makhdum, sehingga beliau lebih paham akan keadaan dan sejarah mereka. Wallahu A’lam.

Kemudian jasad beliau dikuburkan dekat dengan Masjid Jami’ Kungippally (atau Kunhippally), Chombal, yang termasuk bagian distrik Kozhikode, state Kerala, India. Sekarang masjid tersebut dikenal dengan nama Chombal Kunhippally Juma Masjid, dan makam beliau berada di bawah pohon sebelah utara bangunan utama masjid. Istri beliau juga dimakamkan dekat dengan beliau. Hingga saat ini, kubur beliau sentiasa dikunjungi oleh para peziarah yang berasal dari berbagai daerah. Semoga Rahmah Allah selalu mengucur di kubur beliau, Surga Firdaus menjadi tempat peristirahatan beliau, dan kita dikumpulkan bersama beliau dalam naungan ridha-Nya. Amin.

Referensi Utama
  • Dr. Abdunnashir Ahmad al-Malibari asy-Syafi’i, Tarajim Ulama asy-Syafi’iyah fi ad-Diyar al-Hindiyah. Dar al-Fath Oman, I/1431 H/2010 M
  • Dr. Ali Akbar, Makhdum II – a great Islamic scholar lost in history. Arabnews, 30 November 2012
  • Syekh Qushay Muhammad al-Hallaq, Mukaddimah Irsyad al-Ibad ila Sabil ar-Rasyad. Dar al-Minhaj Jeddah, I/1439 H/2018 M
  • Dr. A.I. Vilayathullah, Short Biography of Shaykh Zainuddin (dimuat dalam Tuhfat al-Mujāhidīn: A Historical Epic of the Sixteenth Century” karya terjemahan S. Muhammad Husayn Nainar). Islamic Book Trust, Kuala Lumpur, 2006
  • Yoginder Sikand, Book review: The Tribute to the Strugglers. Twocircles.net, 24 januari 2008
  • Syekh Abdul Hayyi ibn Fakhruddin al-Hasani (w. 1341 H), al-I’lam bi Man fi Tarikh al-Hindi min al-A’lam = Nuzhah al-Khawathir wa Bahjah al-Masami’ wa an-Nadza’ir. Dar Ibn Hazm Beirut, I/1420 H/1999 M
  • Khairuddin ibn Mahmud az-Zirikli (w. 1396 H), al-A’lam. Dar al-Ilm li al-Malayin, 2002 M
  • Umar Ridha Kahhalah, Mu’jam al-Mu’allifin. Maktabah al-Mutsanna Beirut
  • Peta Daerah dari https://www.google.com/maps/

*** Untuk kembali ke bagian sebelumnya, klik LINK ini ***

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar