Kisah Syeikh Al-Albani dan Redaksi Adzan


Suatu ketika saat Syeikh Al-'Allamah Abdul Aziz 'Uyun As-Sud (w. 1399 H) --Syaikh ul-Qurra' dari Kota Homs-- sedang duduk-duduk di dalam Masjid untuk menunggu datangnya waktu shalat Dhuhur, lalu masuklah seorang lelaki yang pada waktu itu beliau tidak mengenalnya. Di kemudian hari seseorang memberitahu beliau bahwa lelaki itu bernama Syeikh Nashiruddin Al-Albani. Lelaki itu pun duduk dan ikut menunggu berkumandangnya adzan.

Tak berselang lama, waktu adzan pun tiba. Sang Mu'adzin dengan lantangnya berucap:

"Allahu Akbara-llahu Akbar" (dengan dibaca fathah ra'-nya)

Si lekaki tadi --yang tak lain adalah Syeikh Al-Albani-- dengan bergegas dan sambil marah berucap:

"Ini salah! ini bid'ah!"

Lalu Syeikh Abdul Aziz As-Sud bertanya kepadanya:

"Apa yang salah dan apa yang bid'ah?"

Dia menjawab:

"Ini menyelisihi dengan apa yang ada di Shahih Muslim"

Syeikh As-Sud bertanya lagi:

"Memang seperti apa yang di Shahih Muslim?"

Lalu dia berkata:

"Yang ada di Shahih Muslim berbunyi 'Allahu Akbaru-Llahu Akbar'" (ra'-nya dibaca dhommah)

Maka Syeikh As-Sud dengan akhlaknya yang terpuji dan dengan tenang berkata:
"Bagaimana anda tahu? Apakah anda bertalaqqi dari guru-guru anda, lalu dari guru-guru mereka sampai Imam Muslim, bahwasanya beliau meriwayatkan hadits tersebut dengan dibaca dhommah? ataukah dari harakat yang berasal dari percetakan?"
Si lelaki itu pun tak mampu menjawab dan hanya diam.

Kisah ini dicerikan langsung oleh Syeikh As-Sud kepada salah satu muridnya yang bernama Syeikh Muhammam Awwamah, sang muhaqqiq terkenal, pada bulan Syawwal tahun 1398 H. Lalu kisah ini beliau tulis di salah satu karya beliau yang berjudul "Atsarul Hadits Asy-Syarif fi Ikhtilaf al-A'immah al-Fuqaha' radliyallahu anhum" (57-58), yaitu pada pembahasan tentang keharusan menyelidiki harakat teks hadits sekaligus memperhatikan perbedaan para perawi terkait itu.

Syeikh Awwamah menambahkan bahwa faktanya si lekaki dalam kisah tersebut tidak memiliki guru (dalam hadits) kecuali hanya satu guru saja yang berasal dari Aleppo. Itupun kondisinya dengan cara ijazah bukan dengan cara talaqqi (belajar di hadapan guru), sehingga jauh dari mushahabah dan mulazamah. Satu-satunya guru Al-Albani yang dimaksud oleh Syeikh Awwamah ini bernama Syeikh Muhammad Raghib Ath-Thabbakh (w. 1370 H/1951 M). Beliau pernah memberikan ijazah kepada Syeikh Al-Albani untuk mengajar salah satu kitab dalam ilmu hadits.

Terkait redaksi adzan yang diperdebatkan ini, Syeikh 'Ala'uddin Mughlathay Al-Hanafi (w. 762 H) dalam Syarh Sunan Ibn Majah (1/1106) menjelaskan bahwa:
الله أكبر بتسكين الراء فألقوا على الراء فتحة الألف من اسم الله تعالى، وانفتحت الراء وسقطت الألف،
"Lafadz 'Allahu Akbar' dibaca sukun ra'-nya, lalu para ulama menerapkan fathah-nya alif dari lafadz Allah kepada ra' tersebut. Sehingga ra'-nya menjadi fathah dan harakat alif-nya terbuang (menjadi Allahu Akbara-llahu Akbar)."

Tulisan ini pernah saya posting di halaman Facebook saya pada malam Senin, akhir bulan Safar, 1441 H.

Wallahu A'lam..

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar