Pesan Imam Syafi’i [Bagian 1] saat Menghadapi Wabah (Epidemi)


Sejak zaman dahulu, sudah banyak ulama yang menulis kitab atau risalah khusus tentang wabah penyakit (epidemi) yang dalam bahasa arab disebut Al Waba’ atau Ath Tha’un. Diantara ulama yang disebut sebagai penulis pertama ialah Imam Ibn Abi Ad Dunya (w. 281 H) dengan karyanya berjudul Kitab Ath Thawa’in. Jika dihitung secara keseluruhan, ada sekitar 70an karya ilmiah yang berbicara mengenai topik ini. Hanya saja, kebanyakan dari karya-karya itu masih berupa manuskrip hingga saat ini. Sepengetahuan penulis, sedikitnya sudah ada tiga karya yang telah diedit dan dicetak dengan rapi, yaitu: (1) Badzl Al Ma’un fi Fadlli Ath Tha’un karya Imam Ibn Hajar Al Asqalani (w. 852 H); (2) Ma Rawahu Al Wa’un fi Akhbar Ath Tha’un karya Imam Jalaluddin As Suyuthi (w. 911 H); dan (3) Karya Syeikh Al Mar’i Al Karmi Al Maqdisi (w. 1033 H) berjudul Ma Yaf’aluhu Al Athibba’ wa Ad Da’un bi Daf’i Syarr Ath Tha’un.

Dari referensi-referensi ilmiah itu, kita tahu jikalau terdapat perbedaan diantara para ulama mengenai apakah obat atau wirid-doa masih manjur mengahadapi suatu wabah penyakit (tha’un)? Sekelompok ulama dan tabib secara tegas menyatakan jika tha’un tidak ada obatnya. Bahkan mereka mengkritik banyak pihak yang masih disibukkan dengan berbagai upaya yang sia-sia atau menyusun doa-doa yang sama sekali tidak ada contohnya. Sebagian dari mereka berkata (Ma Rawahu Al Wa’un, 217; Ma Yaf’aluhu Al Athibba’, 36-37):

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ يُسْتَطَبُّ بِهِ *** إِلاَّ الحَمَاقَةَ وَالطَّاعُونَ وَالْهَرَمَا
“Bagi setiap penyakit ada obatnya, tapi tidak untuk kebodohan, wabah dan kepikunan” 
Akan tetapi, tidak sedikit pula diantara para ulama yang masih menganjurkan untuk senantiasa berusaha dan berdoa untuk keselamatan saat wabah telah menyebar. Lebih dari itu, banyak dari mereka yang memberikan tips-tips tertentu dan menyusun wirid-doa khusus dalam menghadapinya. Termasuk dalam kelompok ini ialah Imam Besar kita, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (w. 204 H).

Imam Abu Nu’aim Al Ashfahani (w. 430 H) meriwayatkan dari Abu Muhammad bin Hayyan, dari Muhammad bin Muhammad bin Yazid, dari Abu Thahir, dari Harmalah (murid Imam Syafi’i), beliau berkata: Saya pernah mendengar Imam Asy Syafi’i berkata:

لَمْ أَرَ أَنْفَعَ لِلْوَبَاءِ مِنَ التَّسْبِيحِ
“Saya tidak mengira ada yang lebih bermanfaat untuk (menghadapi) wabah atau epidemi selain bacaan tasbih” (Hilyah Al Auliya’ wa Thabaqat Al Ashfiya’, 9/136)
Perkataan Imam Syafi’i ini dikutip juga oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalani dalam Badzl Al Ma’un fi Fadlli Ath Tha’un (170), Imam Ibn Hajar Al Haitami dalam Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubra (4/29) dan yang lainnya. Hanya saja mereka memakai redaksi “Ath Tha’un” sebagai ganti “Al Waba’”.

Tentu banyak diantara kita yang bertanya-tanya apa landasan beliau hingga sampai pada kesimpulan seperti itu. Beberapa ulama yang datang setelah beliau menjelaskan bahwa pernyataan Imam Syafi’i di atas tak lain berdasarkan Firman Allah:

فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ
“Maka sekiranya dia (Nabi Yunus) tidak termasuk orang yang banyak bertasbih kepada Allah,  niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. As-Shaffat: 143-144)
Nabi Yunus AS pernah diuji oleh Allah berupa ditelan seekor ikan yang amat besar. Hal ini terjadi karena beliau pernah lari dari kaumnya. Di dalam perut ikan itu, Nabi Yunus menderita dan merasa terpenjara. Beliau pun merasa tersiksa karena telah meninggalkan kaumnya. Beliau kemudian bertaubat.

Dalam taubatnya, beliau banyak bertasbih dan berdoa. Menurut Sa’id bin Jubair dan yang lainnya radliyallau ‘anhum, bacaan tasbih Nabi Yunus berbunyi (Tafsir Al Baghawi, 7/60; Tafsir Ibn Katsir, 7/39):

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (الْأَنْبِيَاءِ-87)

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al-Anbiya’: 87).

Terkait tasbih Nabi Yunus ini, sebagian ahli ma’rifat berkata (Ma Yaf’aluhu Al Athibba’, 48):

دعاء يونس عليه السلام من ذكره في أيام الطاعون مائة وستًّا وثلاثين مرة حفظه الله تعالى من الوباء والطَّاعون، وهو لا إله إلَّا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين؛ وهو اسم الله الأعظم
“Doanya Nabi Yunus alaihis salam di hari-hari tertimpa wabah adalah bagian dari wirid beliau yang dibaca sebanyak 136 kali, karenanya Allah menyelamatkan beliau dari wabah dan tha’un. Wirid itu berupa ‘La Ilaha Anta Subhanaka Inni Kuntu Mina Adz Dzalimin’, yang tak lain merupakan Nama Allah yang A’dzam”.
Dalam peristiwa itu, Allah menegaskan bahwa seandainya Nabi Yunus tidak bertasbih dan berdoa, maka dia akan tetap terperangkap di perut ikan itu sampai hari Kiamat. Karena tasbih dan doanya itulah maka Allah melepaskannya dari cobaan dan siksaan-Nya.

Seperti halnya yang dialami Nabi Yunus, terjadinya wabah juga tak lepas dari siksa atau azab yang Allah kirimkan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah radliyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ ، فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ (رواه البخاري)

Dari A’isyah radliallahu 'anha, istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang masalah tha'un, lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha'un (wabah penyakit, epidemi) adalah sejenis siksaan yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin, tidak ada seorangpun yang menderita tha'un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala serta mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentaqdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid" (HR. Imam Al Bukhari, 3215).

Dari sini kita menjadi paham apa yang melatarbelakangi pandangan Imam Syafi’i tadi. Memang benar tak ada yang lebih manjur untuk bisa lepas dari siksaan Allah—termasuk bagian darinya ialah wabah/epidemi—selain bacaan tasbih. 

Dalam beberapa literatur yang lain, ditemukan beberapa ungkapan dari ulama terdahulu yang mendukung asumsi Imam Syafi'i di atas. Diantaranya ialah Ka’b Al Akhbar radliyallahu ‘anhu yang pernah berkata:

سبحان الله تمنع العذاب
“Bacaan tasbih ‘subhanallah’ bisa mencegah azab” (Ruh Al Bayan, 7/488; Ma Yaf’aluhu Al Athibba’ , 48).
Dalam Ruh Al Bayan (7/488), Syeikh Isma’il Haqqi Bursevi (w. 1127 H) juga bercerita jikalau Sayidina Umar bin Al Khatthab radliyallahu 'ahnu pernah menyuruh untuk mencambuk seseorang—sebagai hukuman. Ketika orang tersebut dicambuk untuk pertama kali, ia berucap Subhanallah, maka seketika Umar bin Al Khatthab mengampuninya.

Wallahu A’lam.

@Abdul Latif Ashadi

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar