Malam Pertengahan Bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban): Keutamaan dan Amalannya (Bag 3)


Awal Mula Peringatan Malam Nishfu Sya’ban

Peringatan malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in di Syam (Syria), seperti Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman ibn Amir dan sebagainya. Mereka mengagungkannya dan beribadah secara sungguh-sungguh di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengerti dan mengamalkan keutamaan malam Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para Ulama berbeda-beda dalam menyikapinya. Sebut saja misalnya para ahli ibadah (‘ubbad) dari Bashrah (Irak) dan lainnya, mereka menerima apa yang dilakukan oleh penduduk Syam tersebut. Sedangkan mayoritas ulama Hijaz mengingkarinya bahkan menyebutnya sebagai bid’ah, termasuk diantara mereka ialah Atha’, Ibn Abi Mulaikah, para ahli fiqh Madinah sebagaimana yang dikutip oleh Abdurrahman ibn Zaid ibn Aslam, serta beberapa sahabat Imam Malik dan lainnya. Mereka mengatakan:

ذلك كله بدعة

“Semua itu adalah bid’ah”

Ulama Syam sendiri berbeda-beda dalam menghidupkan malam mulia itu. Setidaknya ada dua pendapat menyangkut hal ini. Pertama, ada sebagian ulama yang menganjurkan untuk dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid, termasuk diantaranya Khalid ibn Ma'dan, Luqman ibn Amir, dan yang lainnya. Mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berkumpul di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq ibn Rahuyah (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), bahkan secara tegas beliau berkomentar terkait ritual berjamaah di Masjid: 

ليس ببدعة
"Itu bukan termasuk bid'ah". Sebagaimana dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitab Masa’il-nya.
Kedua, ada sebagian ulama yang lain yang memakruhkan untuk berkumpul di masjid untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak menilai makruh jika seseorang shalat (sunah mutlak misalnya) secara sendirian di malam tersebut. Termasuk diantara kelompok ini ialah Imam al-Auza'i, seorang ulama fikih besar dan mufti dari Syam. Terkait pendapat kedua ini, al-Hafidz Ibn Razab al-Hanbali berkata:

وهذا هو الأقرب إن شاء الله تعالى

“Pendapat inilah yang lebih dekat (dengan kebenaran), insya’Allah ta’ala” (Lathaif al-Ma'arif, 137)

Penjelasan seperti ini banyak dikutip oleh para ulama, termasuk dalam Mawahib al-Ladunniyah (2/259), Ithaf as-Sadah al-Muttaqin (3/424), Husn al-Bayan fi Lailah al-Nishf min Sya’ban (9-10) dan lainnya.

Amalan di Malam Nishfu Sya’ban

Pertama-tama, mari kita simak apa yang disampaikan oleh al-Imam al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H):

فينبغي للمؤمن أن يتفرغ في تلك الليلة لذكر الله تعالى ودعائه بغفران الذنوب وستر العيوب وتفريج الكروب وأن يقدم على ذلك التوبة فإن الله تعالى يتوب فيها على من يتوب 
“Seyogyanya bagi seorang mukmin untuk meluangkan waktunya di malam tersebut (Malam Nishfu Sya’ban) untuk berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya meminta ampunan dari segala dosa, ditutupinya segala aib dan dilapangkannya segala kesempitan, serta tak lupa mendahulukan taubat sebelum itu semua, karena sesungguhnya Allah menerima taubat dari siapapun yang bertaubat di malam itu”
Beliau belanjutkan:

ويتعين على المسلم أن يجتنب الذنوب التي تمنع من المغفرة وقبول الدعاء في تلك الليلة وقد روي: أنها: الشرك وقتل النفس والزنا وهذه الثلاثة أعظم الذنوب عند الله

“Dan tentu bagi setiap muslim harus menjauhi segala dosa yang bisa menghalangi turunnya maghfirah dan diterimanya doa pada malam mulia itu. Diantaranya—sebagaimana dalam beberapa riwayat--, termasuk syirik, pembunuhan dan zina, yang ketiga-tiganya merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah.” (Latha’if al-Ma’arif, 138)

Diantara dzikir yang masyhur diamalkan oleh para ulama dari generasi ke generani, sebagaimana dinyatakan oleh Syekh al-Mujaddid al-Muhaddits al-Lughawi as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi (w. 1205 H), ialah

وقد توارث الخلف عن السلف في احياء هذه الليلة بصلاة ست ركعات بعد صلاة المغرب كل ركعتين بتسليمة يقرا في كل ركعه منها بالفاتحه مره والاخلاص ست مرات بعد الفراغ من كل ركعتين يقرأ سورة يس مرة ويدعو الدعاء المشهور بدعاء ليلة النصف من شعبان ويسال الله تعالى البركة في العمر ثم في الثانية البركة في الرزق ثم في الثالثة البركة في حسن الخاتمه وذكروا ان من صلى هكذا بهذه الكيفيه اعطى جميع ماطلب وهذه الصلاة مشهورة في كتب المتأخرين من الساده الصوفية ولم أر لها ولا لدعائها مستندا صحيحا في السنة الا انه من عمل المشايخ

“Para ulama Khalaf telah mewarisi rutinitas ibadah pada malam Nishfu Sya’ban dari para ulama Salaf dengan melaksanakan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib dengan cara setiap dua rakaat (ditutup) dengan satu salam. Pada tiap rakaat membaca surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlash sebanyak enam kali. Setiap selesai dari dua rakaat dilanjutkan dengan membaca surah Yasin, kemudian membaca doa Nishfu Sya’ban yang masyhur. Pada pembacaan surat Yasin yang pertama, diniatkan supaya Allah ta’ala memberikan keberkahan umur. Pada pembacaan yang kedua, meminta keberkahan rezeki, dan yang ketiga berdoa agar diberikan husnul-khatimah. Para Ulama menyebutkan barangsiapa shalat dengan tata-cara seperti ini, maka akan dikabulkan segala apa yang diminta. Tata-cara seperti ini sangat terkenal di kitab-kitab ulama Muta’akhkhirin dari para imam Shufi. Dan saya sendiri tidak menemukan adanya sanad yang shahih dalam hadis mengenai itu, melainkan berasal dari amaliyah dari para Masyayikh.” (Ithaf Sadah al-Muttaqin, 3/424)

Syekh Abdul Hamid ibn Muhammad Ali Quds asy-Syafi’i (w. 1335 H) menyebutkan bahwa pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali tidak harus dibarengi dengan Shalat Sunnah, melainkan cukup dibaca setelah Shalat Maghrib. Pembacaan Yasin yang pertama diniatkan untuk panjangnya usia, yang kedua dengan niat menolak bencana, dan yang ketiga supaya (hidupnya) tidak tergantung kepada orang lain. (Kanz an-Najah wa as-Surur, 276-277)

Beliau menambahkan, doa Nishfu Sya’ban yang masyhur itu berbunyi:

بسم الله الرحمن الرحيم
وصَلَّى الله عَلىَ سَيِّدِنَا محمدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ ، يَا ذَا اْلجَلَالِ وَاْلِإكْرَامِ ، يَا ذَا الطَّوْلِ وَلْإِنْعَامِ ، لَا إِلهِ إِلاَّ أَنْتَ ، ظَهْرَ اللاَّجِئِيْنَ ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ ، وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ [فِي أُمِّ الْكِتَابِ] شَقِيًّا أَوْ مَحرُوْمًا ، أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ ، فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِيْ ، وَطَرْدِيْ وَإِقْتَارَ رِزْقِـيْ ، وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ ، فَإِنَّكَ قُلْتَ - وَقَوْلُكَ الْحقُّ - فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ ، عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ : {يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ}.
إِلِهيْ بِالتَّجَلِّي اْلأَعْظَمِ ، فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ ، اَلَّتِي يُفرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ ، وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الْأَكْرَمُ ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Terkait do’a diatas, al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad ibn Alawi al-Maliki dalam Madza fi Sya’ban menyebutkan bahwa redaksi yang benar berdasarkan tahkik dan murajaah adalah “Allahumma in Kunta Katabtani Indaka Syaqiyyan aw Mahruman” (اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ شَقِيًّا أَوْ مَحرُوْمًا) tanpa menyebut “fi Umm al-Kitab” (فِي أُمِّ الْكِتَابِ). Sedangkan redaksi yang beredar di kitab-kitab lain yang menyebutkan penambahan “fi Umm al-Kitab”, maka itu salah, dan sangat mungkin disebabkan karena kekeliruan dari penulis naskah. Dikatakan keliru karena apa yang ada di Umm al-Kitab tidak menerima al-mahwu (pengahpusan) ataupun al-itsbat (penetapan). (Madza fi Sya’ban, 101)

Selain doa yang telah kami sebutkan di atas, ada beberapa doa Nishfu Sya’ban yang lain yang disebutkan dan dikutip oleh banyak ulama, termasuk doa Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H), doa as-Sayyid Badruddin al-Hasan ibn al-Quthb Abdullah ibn Alawi al-Haddad (w. 1188 H), doa Syekh al-Allamah Ahmad ibn Umar ad-Dairabi (w. 1151 H) dan yang lainnya. Kesemuanya bisa ditemukan di Kanz an-Najah wa as-Surur fi al-Ad’iyah al-Ma’tsurah allati Tasyrah ash-Shudur karya Syekh al-Khatib Abdul Hamid ibn Muhammad Ali Quds al-Makki asy-Syafi’i (w. 1335 H).

Wa Allah A’lam.

*** Untuk kembali ke Bagian-2, silakan klik LINK ini ***
*** Untuk kembali ke Bagian-1, silakan klik LINK ini ***

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar